MMID Class Series Batch 2: Belajar #MinimalisMulaidariRumah



Tahun ini, MMID kembali mengadakan "MMID Class Series" dengan tema Belajar #MinimalisMulaidariRumah sebagai wadah informasi dan juga pengenalan tentang gaya hidup minimalis. Kurang lebih selama satu bulan MMID Class Series Batch 2 ini dilaksanakan, membahas lima topik seputar minimalisme dari lima narasumber yang berbeda.


Penasaran? Berikut cuplikan kelima materi di MMID Class Series Batch 2 Juli lalu:

1. Mengenal Gaya Hidup Minimalis (oleh Evi Syahida)

Dalam mengenal dan memulai bergaya hidup minimalis penting untuk kita terlebih dulu mengatur pola pikir. Berlatih merasa cukup dengan apa yang sudah kita miliki bisa menjadi langkah pertamanya. Dilanjutkan dengan mengatur pola pikir bahwa barang hanya sebatas alat bantu diri, melakukan pertimbangan sebelum membeli/memiliki, dan bertanggung jawab saat memiliki. Setelah mengatur pola pikir, kita bisa mulai mendalami gaya hidup minimalis. Gaya hidup ini tak melulu soal mengurangi kepemilikan barang, namun juga tentang rasa cukup, syukur, serta mengambil keputusan secara bijak.


2. Manfaat Gaya Hidup Minimalis untuk Kesehatan Mental (oleh Khoirunnikmah)

Gaya hidup minimalis ternyata juga memberikan efek positif pada kesehatan mental kita dengan cara membantu mengurangi mental clutter, mengurangi distraksi, meminimalisir pilihan, dan menciptakan lingkungan tenang yang menbantu pikiran kita bisa lebih fokus. Kita juga bisa melatih tubuh kita untuk bisa lebih tenang dan fokus dengan biofeedback atau umpan balik biologis. Saat kita mulai peka dan sadar dengan reaksi tubuh apa saja yang kurang nyaman, di situlah kita bisa  menarik benang merah aspek mana saja yang perlu diperbaiki.


3. Mempraktikkan Gaya Hidup Minimalis di Rumah (oleh Dewi Indriyani)

Saat pertama mendengar tentang pola hidup minimalis mungkin yang muncul pertama di kepala kita adalah mengurangi jumlah barang dan menata rumah dengan rapi. Padahal menurut Dewi Indriyani, minimalis sejatinya berakar pada mindfulness—kesadaran penuh akan hidup yang dijalani. Dalam minimalisme, kita dilatih untuk menemukan rasa cukup dalam pikiran, mental, dan perasaan.

Cara mudah untuk melatih kesadaran adalah dengan sadar nafas. Nafas bisa menjadi pintu masuk ketenangan: saat cepat dan dangkal tubuh membaca sinyal bahaya, saat lambat dan dalam tubuh merasa aman. Selain lebih sehat karena menyaring dan melembapkan udara, bernafas lewat hidung juga mendukung kesehatan tubuh secara menyeluruh. Dari proses inilah, pola hidup minimalis dan mindful bisa dimulai—dengan menemukan rasa cukup, hadir sepenuhnya, dan menjalani hidup dengan lebih tenang.


4. Tips Mengatur Keuangan (oleh Rahma Maryama CFP®I)

Sadarkah kita kalau pengelolaan uang juga bisa sejalan dengan prinsip minimalisme? Yaitu sadar, cukup, dan fokus pada hal yang bernilai. Dalam mengelola uang, penting untuk memiliki sebuah sistem yang sehat.

Perjalanan keuangan bisa digambarkan dalam lima tahap: mengelola keuangan dasar, membangun jaringan pengaman (dana darurat dan asuransi), mengumpulkan kekayaan lewat investasi, melestarikan kekayaan untuk kemandirian finansial serta meninggalkan warisan. Untuk itu, ada empat indikator sederhana yang bisa dicek: pengeluaran tidak lebih besar dari pemasukan, cicilan utang maksimal 30% dari pendapatan, punya dana darurat, dan memiliki asuransi.

Pada akhirnya, peneglolaan keuangan tak melulu soal teori, namun juga aksi nyata dalam keseharian yang bisa dimulai dengan langkah kecil dan konsisten.


5. Decluttering (oleh Lies TN)

Saat bicara tentang gaya hidup minimalisme, tentu tak bisa jauh dari topik decluttering. Secara umum, decluttering adalah kegiatan memilah barang-barang yang sudah tidak terpakai & hanya menyimpan yang dibutuhkan saja. Ternyata decluttering juga bisa kita terapkan di beberapa hal, dari mulai mental, digital, decluttering.

Kenapa, ya, kita harus memilah barang?

Dengan memilah barang, artinya kita sedang mengusahakan untuk mewujudkan tempat tinggal yang nyaman, rapi, & bersih, meningkatkan fokus serta mengurangi stress, dan juga menumbuhkan rasa cukup dan syukur. Jika masih bingung ingin memilah dari mana, kita bisa memulainya dengan menyingkirkan barang pribadi yang rusak terlebih dahulu. Bisa juga dengan mendokumentasikan sebelum & sesudah melakukan decluttering agar makin termotivasi lagi. Barang-barang yang berhasil dipilah bisa kita donasikan, hibahkan, daur ulang, atau setor ke waste management.

Bagaimana jika kita merasa berat melepas barang yang punya kenangan atau ikatan emosi mendalam dengan kita? Tak perlu buru-buru dipilah, rasakan dahulu emosi yang timbul. Jika mau, kita beri tenggat waktu kapan harus dipilah sambil didokumentasikan agar wujud barang tersebut tetap "ada".


Nah, itu dia kelima topik MMID Class Series Batch 2 bertemakan Belajar #MinimalisMulaidariRumah. Yang mana yang membuat kalian penasaran?


Comments

Popular posts from this blog

"My Minimalist Life Journey" Book Launching Webinar & Kick Off MMID Class Series