Cerita #BundaMinimalis: Tentang Melepaskan & Berbagi Kebaikan

 

Pada dasarnya aku bukan orang yang sulit melepaskan barang jika memang barang tersebut tidak aku butuhkan (biasanya pemberian) atau manfaatnya sudah "berhenti" di aku. Tapi.. sejujurnya ada satu jenis barang yg rasanya masih sulit aku lepaskan, setidaknya sampai sepekan lalu.

Buku? Bukan. Printilan? Apalagi. Pakaian? Nyaris, lebih tepatnya pakaian bayi (anakku).

Aku mellow tiap lihat baju bayi Cham. Ingat momen dia bayi, mulai dari perjuangan melahirkan, mengurusnya nyambi skripsi. Ya Allah bikin galau bin mellow! Pokoknya kalo harus dikasih ke orang lain.

Pernah berdalih, "Ah, buat adiknya Icham" tapi kami punya family planning sendiri soal anak.

Dalam prinsip hidup minimalis khususnya dari beragam buku tentang minimalism yang aku baca, memang pakaian bayi sebaiknya dihibahkan ketika selesai digunakan, seiring bertumbuhnya anak. 
"Lho emang udah ngga mau punya anak?"

Ngga gitu... Soal anak adalah hak priogratif Allah. Kita ngga pernah tahu kapan akan dikasih lagi, entah berbarengan dengan rencana kita. Lebih cepat atau malah jauh melesat.

Ini lebih ke "agar manfaat barang itu terus berjalan". Bonusnya, ruang tampak lebih lapang. Meski ga ada paksaan untuk melakukan itu, bukan pula sebuah keharusan. Tapi nyatanya baju-baju bayi itu menyesaki wadah penyimpanan. Teronggok begitu saja, menyedihkan. Sayang, saat itu hati kecil belum bisa melepaskan.

Dulu pernah, udah packing, tinggal kirim ke pusat donasi. Eh dibuka lagi, mellow lagi. Batal deh! "Nanti kalo kangen lihat lagi, gimana?"
"Nanti kalo pengen lihat lagi, ngga bisa?"

Iyha sampai segitunya aku, betapa sentimentilnya. :(

Sampai kemudian aku tergabung dalam grup hibah-adopsi barang. Disana ternyata banyaaaak sekali ibu-ibu dengan finansial kurang, yg membutuhkan pakaian untuk bayinya. Nih coba aku skrinsut beberapa pernyataan para ibu tersebut..


Barulah hatiku mulai tersentuh sekaligus terucap beribu syukur. Memang minimalis itu sangat lekat dengan cukup & syukur.

Bismillah.. Akhirnya aku memilih untuk melepas dengan ikhlas. Karena ternyata ada yang jauuuh lebih membutuhkannya. Kupacking & kukirimkan baju bayi anakku yg masih layak pada mereka yang membutuhkan. Semoga membawa kebaikan dan kebermanfaatan bagi pemilik barunya. 

Dan hei bukankah kelak kita akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang kita lakukan & miliki? Termasuk barang-barang yang kita miliki. Mereka pun ga akan dibawa ke alam kubur kelak. Hanya amal yang menemani. :')

Ingin kuucapkan...

Dear, pakaian bayiku, pergilah bersama majikan barumu. Berikan manfaatmu untuk mereka. Segala kenangan tentang masa bayi anakku ada dalam pikiran dan hati, bukan dlm barang-barang

Apa yang aku rasakan setelah melepaskan?
Bahagia karena bisa berbagi. Bahagia karena ruang lebih luang. Bahagia karena ternyata bahagiaku bukan pada barang, melainkan orang-orang tersayang. Ternyata melepaskan adalah soal waktu dan kesadaran :')


Lalu apa tips dari #BundaMinimalis apa bisa ikhlas melepaskan?
1. Pupuk kesadaran bahwa "stuff is stuff" yang hanya menemani di dunia, tidak di alam kubur apalagi akhirat.
2. Melepaskan sangat bisa jadi membawa lebih banyak kebaikan bagi orang lain
3. Menyadari bahwa kenangan ada dalam hati, bukan barang semata. Meski, tetap, minimalist tidak melarang seseorang menyimpan barang yang menyenangkan hati atau spark joy, istilahnya.

Intinya memang, mindful alias berkesadaran. Sering melihat ke bawah untuk perbanyak syukur. Semoga kamu yang belum bisa melepaskan dengan ikhlas, Allah segerakan; entah barang atau kenangan (seseorang).

Btw, yuk ikutan Tantangan Kebaikan yg diselenggarakan @dompetdhuafa mulai 8-31 Desember 2020. Share cerita berbagi kebaikan yg kamu lakukan agar menginspirasi orang lainnya. Sst.. Ada banyak hadiah menarik bagi pemenang tantangan senilai total Rp11 juta!



Info lebuh lanjut, yuk follow akun @tantangankebaikan!


Oh ya banyak yang bertanya padaku bagaimana cara gabung grup hibah-adopsi barang? Silakan klik link ini ya, request join. Kalau sudah request join, silakan tinggalkan komentar di bawah ini supaya bisa diapprove karena for your information ada 1500 member pending, hehe.

Happy minimalist living then!

Bunda Minimalis; Berkah, Sederhana & Bermakna

Comments

Popular posts from this blog

"My Minimalist Life Journey" Book Launching Webinar & Kick Off MMID Class Series