Minimalism Hacks: Enam Tips Memanfaatkan Kertas Struk Belanja

 


Belanja di supermarket atau minimarket? Rasanya sebagian besar dari kita pasti pernah, malah sering, ya. Hehe. Belanja di supermarket/minimarket ngga bisa lepas dari yang namanya struk.

Oh ya, adakah di antara kalian yang suka mengoleksi struk? Beneran hanya ngoleksi, atau punya tujuan tertentu?

Aku pribadi dulu semasa single, paling anti bawa pulang struk. UUD, ujung-ujungnya dibuang! Tapiii sejak 2017 tepatnya sejak kenal sebuah aplikasi pembaca struk dimana setiap kita unggah struk, kita bakal dapat cashback, akupun jadi bawa pulang struknya hehe.



Ya meskipun ngga banyak cashbacknya. Tergantung katalog aplikasi juga, apakah produk yang kita beli masuk dalam katalog ya atau ngga. Tapi lumayan lah. Dari struk yang sekilas kayak sampah, eh bisa menghasilkan (uang).

Aku juga sengaja membawanya pulang karena kalo ngga dibawapun, struk itu tetap ada. Malah biasanya auto dibuang Mbak kasir. Entahlah, kayaknya sistem kasir di Indonesia belum bisa tanpa struk sama sekali ya, even bayarnya pakai emoney. Atau kalian tahu supermarket yang tanpa struk?

Trus, trus kalo udah discan, diapakan struknya? Biasanya sih aku suka pakai buat nulis daftar belanjaan ketika pergi ke tukang sayur. Apalagi sejak pandemi, aku ngga pernah belanja sayur, selalu suami yang ambil alih.

Manual ya? Haha. Entah ya, aku kalau belanja sayur kurang suka bawa gadget. Ya sejalan latihan handwriting juga. Sejak lulus kuliah kan jarang atau bahkan ngga pernah handwriting. :')

Tapi, akhirnya aplikasi andalanku berhenti "membuang" uang lewat struk. O-ow! Belum lagi makin lama, jumlah struknya lebih banyak daripada kebutuhan buat list daftar belanja. Mulai putar otak!


Tips Memanfaatkan Kertas Struk

Akhirnya "berekspansi" menjadikan struk untuk beberapa hal lainnya. Berikut tips Memanfaatkan Kertas struk Belanja.
1. Sebagai kertas menulis alamat untuk paket yang dikirim (pribadi, bukan paket jualan 😅). Memang sih di penerima ini akan masuk pembuangan juga (syukur-syukur penerima punya wadah separasi sampah) tapi 
2. Media bermain Cham yang sedang suka menulis dan menggunting. Untuk yang ini, aku akui, hasil akhirnya tetap ke pembuangan di rumah. Tapi setidaknya berusaha reuse dulu :')
3. Selain dua hal itu, bisa juga didonasikan pada komunitas atau project-project pengumpul kertas.
4. Buat journaling. Untuk nulis something lalu ditempel di journal, bisa buat hiasan juga. Sekreatif kalian.
5. Buat nyoret-nyoret hitung. Jadi ingat semasa kuliah ada kakak tingkat yang suka pakai kertas bekas tiket Transjakarta (iya dulu masih belum totally card system).
6. Menulis daftar belanja sayur

Oh ya ini ngga cuma berlaku buat kertas struk tapi miscellaneous paper lainnya seperti tiket kendaraan, tiket tempat wisata dan lain sebagainya. 

Intinya, bagaimana kita "memanfaatkan" mereka sebelum benar-benar masuk dropbox pembuangan. Istikah kerennya reuse. Aku yakin setiap benda punya "kehidupan kedua" atau bahkan ketiga dan seterusnya. 

Happy minimalist living then!

Bunda Minimalis; sederhana, syukur & sadar

Comments

Popular posts from this blog

"My Minimalist Life Journey" Book Launching Webinar & Kick Off MMID Class Series