Hai, sobat Bunda Minimalis! Beberapa hari lalu aku diundang oleh LevelUp! untuk sharing seputar minimalism. Acara ini berlangsung via Google Meet pada 24 Desember pukul 19.00-20.30 WIB. Jujur, ini kali pertama aku menjadi narasumber webinar minimalis. Ada sekitar 70-an peserta yang mendaftar. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia, paling jauh? Russia!
Alhamdulillah singkat cerita, acara berjalan lancar. Thanks to my hubby yang udah ngehandle anak lanang :D
Dulu semasa mahasiswi ngisinya seputar karya ilmiah. Awal jadi ibu, ngisi seputar blogging. Dan sekarang minimalism :D
Well I just try to share what I knew to others, transferred every single knowledge that I have. Syukur-syukur menjadi pemberat amal kebaikan kelak :')
 |
| Skrinsut sendiri, background kebalik tapi kalo di peserta, ngga kok |
Back to topic. Ada beberapa request untuk nyimak rekamannya. Kayaknya bakal diunggah sama penyelenggara, tapi akhirnya aku coba rangkum tanya jawab di webinar tempo hari. Mungkin redaksionalnya berbeda tapi semoga esensinya tetap sama ya.
1. Apakah ada penelitian seputar gaya hidup minimalis di Indonesia? Saya tertarik melakukannya.
Jawab:
Sejauh ini saya belum pernah mendengarnya karena belum pernah mencaritahu juga. Tapi apabila bapak ingin melakukannya, saya support. Nanti akan dibantu share di komunitas saya insya Allah.
2. Seperti kita ketahui, beberapa orang mungkin menerapkan gaya hidup minimalis karena sebuah turning point. Seperti yang terjadi pada The Minimalist juga. Bagi yang tidak punya peristiwa turning point apa yang bisa dijadikan motivasi untuk mulai menerapkan gaya hidup minimalis?
Jawab:
Rasanya mungkin memang lebih "ngena" ya kalau ada "peristiwa di masa lalu". Meski ngga semua orang mengharapkannya. Dan ngga meti juga menunggu ada peristiwa tersebut, kita bisa temukan pribadi sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas; motif spiritual, sosial, emosional, spasial atau bahkan finansial. Temukan strong why-mu.
3. Apakah benar minimalism hanya untuk kelas menengah (ke atas)? Karena di negara Skandinavian yang notabene pegiat gaya hidup tersebut adalah orang-orang dari kelas menengah ke atas.
Jawab:
Memang, istilah minimalism ini setahu saya yang mencetuskan negara Barat, khususnya Skandinavian dimana kehidupan masyarakat disana umumnya kelas menengah dan menengah ke atas yang mengutamakan kualitas alih-alih kuantitas. Sehingga seolah terpatri dalam benak kita minimalis identik dengan finansial menengah ke atas. Tapi ini sangat mungkin diterapkan oleh orang-orang dari berbagai kalangan apalagi orang Indonesia benar-benar beragam latar belakang finansialnya.
4. Saya sedang mencoba me-redecor kamar saya menjadi satu warna. Tapi seolah jadinya saya tidak pakai yang ada. Bagaimana menurut Bunda?
Jawab:
Minimalis bukan berarti tidak "memperhatikan" diri sendiri. Karena muaranya adalah kebahagiaan jadi perlu juga memperhatikan apa yang membuat diri ini bahagia. Jika mendesain ruangan dengan warna kesukaan mendatangkan kebahagiaan, tak apa dilakukan, menurut saya. Tapi pintar-pintar saja menentukan budget dan memanfaatkan apa yang ada. Misal, memanfaatkan barang dengan warna yang diinginkan alih-alih membeli baru.
5. Bagaimana caranya menerapkan gaya hidup minimalis dari buku yang sudah kita baca?
Jawab:
Ketika membaca, siapkan juga sticky notes/kertas catatan dan pulpen (jika buku fisik). Catat hal yang penting. Di akhir baca, review kembali. Pilih mana yang ingin dilakukan.
6. Dengan menerapkan minimalism apakah akan memperlambat roda perekonomian?
Jawab:
Menurutku tidak. Justru dengan banyaknya orang menerapkan gaya hidup minimalis, dan akhirnya beralih ke brand yang lebih less waste, merek brand yang "ditinggalkan" akan melakukan evaluasi dan pada akhirnya ikut hijrah untuk lebih less waste dan menjadi minimalism business.
7. Dalam menjalani pola hidup sehat kita lambat laun mengganti berbagai macam alat masak maupun bahan makanan ke yang lebih thayyib.. contoh seperti talenan, talenan unthk daging atau ikan itu tidak boleh dijadikan satu untuk buah untuk menghindari kontaminasi bakteri. Dlm hal ini apakah beretentangan dengan menjalani hidup minimalis (pakai yang ada)? Bagaimana cara menyeimbangkan keduanya agar tetap bisa hidup sehat sambil menjalani hidup minimalis? terima kasih sblmnya
Jawab:
Minimalis adalah merasa cukup. Standard cukup setiap keluarga (bahkan setiap orang) berbeda-beda.
Jika memang dari beragam info valid yg kita dapatkan, ternyata ada potensi merusak kesehatan, menurut saya tidak masalah memiliki dua talenan sekalipun. Berarti standard cukup versi kita adalah dua talenenan dan ini sesuai kebutuhan. Misal, talenan buah/sayur dan daging. Bukan lantaran punya dua-tiga talenan karena sekadar suka (saja).
Pakai yang ada bukan berarti tidak boleh benar-benar membeli, boleh tapi dilakukan dengan bijak dan tanya ke dalam diri "apakah benar aku membutuhkannya? Jika tidak punya, apakah aku akan "baik-baik saja"?
9. Setelah melakukan minimalis, ada berapa jumlah pakaian yang mbak miliki sekarang nih?
Jawab:
Sejujurnya aku ngga pernah ngitung tapi sejauh ini masih merasa cukup.
Karena pertanyaan ini aku jadi menghitung :D dan sejauh kuhitung jumlahnya 34 buah (gamis, atasan, outer, baju harian rumahan, baju tidur, legging, rok, kerudung2).
Oh ya karena dulu sebelum pandemi, saya nomaden antara rumah sendiri dan rumah ortu jadi saya juga punya stok baju disana ketika menginap berhari-hari. Jumlahnya jauh lebih sedikit.
"Kenapa ngga bawa aja dari rumah?" Ribet, punya anak kecil :D
Saya siasati dengan rotasi berkala. Jadi ketika ke rumah ortu, saya bawa beberapa pakaian dr rumah. Pulang dari rumah ortu, saya bawa lagi pakaian berbeda dr sana ke rumah saya.
Soal rotasi pakaian pernah saya bahas
disini.
10. Saya sudah mulai mencoba melakukan in-out pakaian. Jika beli satu, harus ada yang keluar. Namun entah mengapa hal itu membuat saya jadi ingin terus beli lagi dan lagi. Bagaimana menyikapinya? Adakah yang salah dengan niat saya?
Jawab:
Telaah dan tanya hati kira-kira apa yang membuat pengen beli terus?
Apakah karena benar-benar belum cukup? Jika ya, silakan beli lagi. Setiap orang punya standard cukup yang berbeda.
Apakah karena sekadar impulsif? Jika begitu, kamu bisa mulai filter following di sosial media dan uninstall e-commerce atau hal lain yang menurutmu bisa membuatmu impulsif.
Lastly, thank you for those who presented at the event. Thank you LevelUp! for having me. Happy minimalist living then!
Bunda Minimalis; sederhana, syukur, sadar dan bahagia
Tanamkan mindset, lebih sedikit barang dapat pikiran lebih luang dan ruang lebih lapang. Jangan sampai bermunculan project donasi membuat kita bermudah-mudah
Comments
Post a Comment