Mengenal Konsep Minimalist Parenting Untuk Menyederhanakan Hidup dan Menikmati Pengasuhan
Dunia awal pernikahan memang "menyenangkan". Seolah dunia hanya milik berdua, apalagi bagi mereka yang menikah dengan jalur tak mengenal sebelumnya. Meskipun tak selalu manis, tapi setidaknya rumah tangga hanya soal suami dan istri. Aku merasakannya. Rasanya seperti dunia seolah milik berdua!
Namun semua berbeda ketika anak sudah hadir di tengah-tengah. Meski begitu, tetap, anak adalah berkah dan anugerah.
Ketika menjadi orangtua, segala metode pengasuhan yang dibaca pun saatnya dipraktikkan. Mulai dari baru lahir hingga kelak masuk fase dewasa atau menikah. Kewajiban orangtua bukan sekadar memberi sandang, pangan dan papan. Namun lebih dari itu, mulai dari membangun sisi spiritual anak, menstimulasi dan lain sebagainya.
Tak sedikit orang tua merasa kewalahan, harus menggunakan metode pengasuhan yang apa dan bagaimana? Hal itu pun terjadi padaku, tepatnya di awal kelahiran anakku, Abrisham. Hingga akhirnya kami mulai menerapkan prinsip hidup minimalis yang kemudian sedikit banyak mempengaruhi metode pengasuhan kami.
Apa itu Minimalist Parenting?
Sebagai orangtua, kamu sudah memiliki beragam materi dan kecukupan dunia, tapi seolah-olah merasa "kurang"? Banyaknya pilihan justru membuat kita bingung; opsi pendidikan, alternatif investasi, pilihan hiburan dan lain lain. Mungkin saatnya kamu mempertimbangkan untuk menerapkan minimalist parenting.
Minimalist Parenting menanamkan konsep bahwa apa yang saat ini kita miliki sudah cukup; kecakapan diri, materi, waktu. Tinggal bagaimana mengoptimalkannya dan meminimalisir pilihan agar merampingkan waktu mengambil keputusan.
Minimalist parenting membantu orang tua menyederhanakan hidup dan menikmati pengasuhan, dua hal yang rasanya tidak akan ditolak oleh keluarga manapun.
Menyederhanakan Hidup
Minimalist parenting mampu membuat hidup lebih sederhana karena orangtua memahami value keluarga dan diri sehingga lebih mudah membuat keputusan yang sesuai value tanpa diiringi perasaan takut ketinggalan atau gagal bertindak. Orangtua khususnya ibu pada akhirnya memiliki ritme yang membuat kegiatan memasak lebih sederhana, alih-alih ruwet bin complicated.
Menikmati Pengasuhan
Minimalist parenting membuat orangtua lebih bisa menikmati pengasuhan karena mampu mengatur jadwal dengan baik, baik jadwal kegiatan profesional, personal maupun rumah tangga. Rumah pun menjadi tempat yang mewadahi proyek kreatif keluarga. Jangan khawatir, minimalist parenting tidak mengharuskan orangtua berhemat yang mencekik leher, orangtua masih bisa gemar membeli barang namun pembelian yang dilakukan sudah dipertimbangkan dan hanya yang benar-benar multifungsi atau meningkatkan kebahagiaan jangka panjang.
Dalam Islam sendiri, minimalist parenting sedikit banyak representasi dari zuhud.
Langkah Awal Menerapkan Minimalist Parenting
1. Fokuslah pada Apa yang Penting & Dibutuhkan
Singkirkanlah apa-apa yang menurut kita kurang atau bahkan tidak penting, baik itu barang, komitmen maupun pikiran. Oleh karenanya decluttering menjadi kegiatan tak terpisahkan di awal menerapkan minimalist parenting. Waktu dan perhatian kita terlalu berharga. Simpan atau tambahlah apa-apa yang meningkatkan kebahagiaan dan makna hidup. Yang tidak? Silakan singkirkan atau kurangi.
2. Kenali Dirimu
Sebelum melangkah lebih jauh, coba kenal nilai-nilai yang kita anut. Lakukan flashack pada masa kecil kita. Tanyakan pada diri sendiri dan pasangan; aku bersyukur orangtuaku mengajariku apa saja? Aku ingin keluargaku sekarang mengambil nilai apa saja dari masa kecilku? Apa yang menurutku penting? Apa yang aku inginkan agar dipegang teguh anak-anakku ketika tampil ke dunia? Peran apa yang ingin aku mainkan untuk keluargaku?
Tak perlu khawatir kalau ada pertanyaan yang Belum terjawab saat ini. Teruslag menggali diri, seiring berjalannya waktu, semua akan terlihat lebih jelas. Tapi tetap harus mempersamakan nilai dengan pasangan.
3. Kenali Keluargamu
Setelah atau sambil mengenali diri sendiri, kenali juga setiap anggota keluarga kita. Coba tanya hati; apa saja persamaan aku dan anak/pasanganku? Apa saj perbedaan kami yang mencolok? Kegiatan apa yang paling mereka gemari?
Hal ini untuk menumbuhkan saling memahami. Oh ya boleh juga mengajak anggota keluarga lainnya (jika usia anak sudah memahami soal ini) untuk menelaah bersama. Perbedaan karakter keluarga bukan berarti membuat kita harus benar-benar mengenyahkan kesenangan atau impian sendiri. Kuncinya adalah memberikan ruang bagi setiap anggota keluarga mengembangkan dirinya.
4. Yakini Keputusanmu
Mengenali diri, pasangan dan anggota keluarga lainnya sudah. Nah saatnya mendengarkan suara hati yang sebetulnya sudah bersuara sejak dulu. Tinggal bagaimana kita mampu fokus dan mendengarkan untuk kemudian kita ikuti dalam mengambil keputusan.
Selain suara hati, pengambilan keputusan juga dipengaruhi informasi yang kita dapatkan. Ada beberapa gaya pengambilan keputusan (selain mendengarkan suara hati, utamanya) yaitu mencari informasi sebanyak-banyaknya melalui media, mendengarkan pendapat ahli atau berdiskusi dengan teman. Setelah memilih salah satunya atau meng-adjust-nya, berdiam sejenak, lalu dengarkan suara hatimu yang lebih tahu mana yang sesuai nilai-nilai keluarga.
5. Buat Daftar "Perbanyak dan Kurangi" Setelah mengenali diri, aturlah kembali jadwal dengan membuat daftar "perbanyak dan kurangi". Telaah, apa-apa saja hal yang ingin Mom tambahkan dalam hidup dan bisa membuat hidup lebih berkualitas seperti piknik bersama keluarga, dll. Tulis dalam kolom PERBANYAK. Identifikasi hal-hal yang menghambat hidup Moms dan keluarga, tulis di kolom KURANGI. Daftar tersebut menjadi pedoman mencapai tujuan, dari ide menjadi perbuatan, dari yang besar hingga bercabang-cabang agar lebih mudah mencapai goal. Moms boleh mengutak-atiknya kemudian, mengubah yang lebih sesuai. Jangan lupa, dengarkan suara hati yang niscaya membantu Moms membuat keputusan yang tepat.
6. Berhenti Mengejar Kesempurnaan
Di era digitalisasi yang semakin berkembang pesat, ternyata cukup mempengaruhi ekspektasi orangtua terhadap kesempurnaan, baik untuk anak, diri maupun pasangan. Masih berkaitan dengan pengambilan keputusan, ngga masalah jika harus "putar haluan" dari orang kebanyakan. Lagi-lagi selama kita mendengarkan suara hati dan sesuai nilai keluarga.
Mengambil keputusan atau pendekatan dalam mendidik anak yang berubah-ubah bukan berarti kita orangtua plin plan. Justru ini adalah "bukti" bahwa segala sesuatunya butuh penyesuaian termasuk keluarga kita.
Begitu orangtua merengkuh minimalist parenting, kesibukan rumah tangga yang awalnya memusingkan atau kurang menyenangkan menjadi lebih menyenangkan. Mungkin orangtua akan tetap suatu waktu mengalami kegalauan tapi tak berlangsung lama karena sudah dibekali kepercayaan diri dan kejelasan arah.
Minimalist Parenting adalah metode pengasuhan dengan meminimalkan kehidupan keluarga--mengedit jadwal, harta benda, ekspektasi dan mengetahui kebutuhan keluarga sehingga lebih banyak fokus disana dibandingkan apa yang tidak penting dan tidak disukai.
Oh ya meskipun minimalist berasal daru luar Indonesia tapi sangat mungkin diterapkan di Indonesia lho!


Comments
Post a Comment