Review Buku "Seni Hidup Minimalis" dengan Teknik Streamline

 

Hidup minimalis tidak bisa lepas dari kebiasaan decluttering. Justru dari decluttering, kita bisa mengawali gaya hidup minimalis yang berkesadaran.

Itulah yang saya pelajari dari buku “Seni Hidup Minimalis” karya Francine Jay. Buku yang mengubah hidup dan mindset saya ini mengajak kita untuk menjaga rumah tetap rapi dengan teknik STREAMLINE. 


Selain itu, buku ini juga memberikan langkah-langkah praktis merapikan setiap ruangan, mulai dari ruang tengah, ruang tidur, ruang kerja, dapur, ruang makan, gudang, hingga menata barang-barang hadiah penuh kenangan. Kemudian, dari konsep hidup minimalis ini bisa membuat kita jadi sadar lingkungan.

Di rumah kita terdapat tiga kategori barang, yaitu barang fungsional, barang dekoratif, dan barang emosional. Kalau barang-barang Moms tergolong barang fungsional dan dekoratif, menjadi minimalis tidak akan susah lagi. Beda halnya kalau di rumah terdapat barang emosional, seperti koleksi perangko milik ayah, keramik warisan ibu, atau mungkin sarung tangan yang dibeli saat honeymoon.

Menyimpannya di dalam laci atau gudang bukan jawaban. Jadi, yang harus Moms lakukan adalah melihat kembali ke sekeliling rumah, mempertanyakan apa fungsinya, bagaimana barang-barang tersebut bisa terdampar di rumah, dan memulai decluttering dari sekarang.

Di buku ini, Francine Jay membahas 10 teknik ampuh untuk menjaga rumah tetap rapi, yaitu STREAMLINE. Yuk, kita kupas satu per satu.


S-Start over (Mulai dari awal)

Keluarkan semua barang dari tempatnya atau ruangannya. Seringkali kita perlu melihat suatu area kosong tanpa barang satu peser pun untuk melihat sudut pandang yang berbeda. Kemudian, masukkan lagi satu per satu.

Proses berbenah ini akan lebih mudah kalau kita menganggapnya sebagai proses memilih barang untuk disimpan, bukan dibuang.


T-Trash, treasure, or transfer (Buang, simpan, atau berikan)

Setelah barang-barang dikeluarkan dari tempatnya atau ruangannya, lakukan proses sortir. Pisahkan barang ke dalam tiga kategori; buang, simpan, atau berikan. Kalau ternyata didapati ada barang yang masih membingungkan, mungkin Moms perlu menambahkan kategori “diputuskan nanti”.


R-Reason for each item (Alasan setiap barang)

Setiap memasukkan barang ke kategori “simpan” berhentilah sejenak dan pertanyakan kembali keputusan itu. Bahkan, Moms bisa juga menerapkan hukum Pareto atau hukum 80/20.

Yaitu dari 80% waktu kita, sebenarnya kita hanya menggunakan 20% dari semua barang yang dimiliki. Itu artinya, kita bisa hidup hanya dengan seperlima barang dimiliki tanpa merasa kehilangan.


E-Everything in its place (Semua barang pada tempatnya)

Setelah barang-barang tersebut dipilah dan sebagian disimpan, simpan semua pada tempatnya. Ada tiga kategori penyimpanan barang, yaitu inner circle, outer circle, dan deep storageInner circle adalah barang yang sering digunakan, seperti laptop, sikat gigi, remote, pakaian dalam. Letakkan barang-barang inner circle di area yang mudah dijangkau.

Outer circle adalah barang yang frekuensi penggunaannya lebih jarang, misalnya cadangan sabun, pembungkus kado, panci khusus, atau barang-barang yang bukan bagian dari keseharian. Lalu, letakkan di area yang tidak dibuka sehari-hari, seperti rak dalam atau atas, kolong tempat tidur, kabinet bagian atas.

Deep storage adalah barang-barang yang dipakai hanya setahun sekali, seperti dekorasi hari raya, suku cadang kendaraan, bukti pajak, dokumen-dokumen. Simpanlah barang-barang tersebut di loteng, gudang, atau garasi.


A-All surfaces clear (Permukaan bersih)

Moms, cobalah cek semua permukaan di rumah. Permukaan meja, nakas, tempat tidur, atau bahkan lantai. Apakah di permukaan tersebut berkumpul barang-barang bagaikan magnet? Ingatlah, permukaan bukanlah tempat menyimpan barang. Maka, kembalikan barang pada tempatnya.


M-Modules (Ruang)

Kumpulkan semua barang dengan fungsi yang mirip, lalu simpan barang yang serupa ke dalam tempat yang sama. Dengan begini, Moms akan tahu bahwa mungkin saja kita memiliki barang yang sama lebih satu. Misalnya, hanya butuh 3 bolpoin, tetapi kenapa jadi punya 50?

Dari cara ini juga, Moms bisa menghindari lupa. Lupa bahwa sudah memiliki suatu barang, lalu membeli lagi barang yang sama atau mirip fungsinya.


L-Limits (Batas)

Terapkan batas untuk “menjinakkan” barang-barang. Misalnya, hanya boleh mengoleksi buku sebanyak 1 rak saja atau mengumpulkan skincare sebanyak 1 kotak saja. Awalnya, mungkin ini mengekang, tapi sebenarnya ini bisa membebaskan.

Dengan memiliki barang terbatas, Moms bisa memiliki waktu luang yang lebih karena tidak ada komitmen untuk bergabung dengan suatu kelompok. Tagihan kartu kredit berkurang, lebih bisa banyak menabung sehingga saldo meningkat.


I-If one comes in, one goes out (Satu masuk, satu keluar)

Setiap ada barang masuk, barang yang lama harus ada yang keluar. Prinsip ini seperti keran dan bertujuan untuk menjaga Moms tetap on track dalam mengatur kepemilikan dan penataan barang.


N-Narrow down (Kurangi)

Untuk mencapai gaya hidup minimalisme, Moms mungkin perlu melihat kembali barang-barang yang dimiliki untuk kembali dikurangi. Tidak ada standar jumlah barang yang boleh dimiliki oleh seorang minimalis. Semua kita sendiri yang menentukan.

Namun, ada baiknya setiap kita akan membeli barang, dipertanyakan terlebih dahulu. Apakah barang tersebut berguna? Atau adakah barang lain yang sudah ada di rumah dan bisa dipergunakan lain. Misalnya, alih-alih membeli microwave dan oven secara terpisah, bukankah ada produk microwave oven yang bisa digunakan untuk memanaskan ataupun memanggang. Jauh lebih praktis!


E-Everyday maintenance (Perawatan setiap hari)

Semua teknik dan proses yang sudah dilalui akan sia-sia jika tidak dilakukan perawatan yang konsisten. Dengan disiplin mengembalikan barang pada tempatnya, radar Moms mungkin akan meningkat bila mendapati ada barang berantakan.

Setiap akan berbelanja, Moms mungkin juga langsung menelaah secara pribadi, sejauh apa barang tersebut dibutuhkan, dan sebagainya. Semua proses decluttering dan menuju gaya hidup minimalis ini langsung membawa perubahan yang sangat terasa.


Buku “Seni Hidup Minimalis” karya Francine Jay ini masuk ke dalam buku favorit saya. Secara taktis dan jelas, saya dibantu untuk menata ruang demi ruang di rumah. Saya juga diajak untuk mengetahui korelasi antara menjadi minimalis dan menjaga hidup.

Moms diajak untuk menjadi “konsumin” atau konsumen minimalis. Yaitu membatasi diri pada apa yang dibutuhkan, minim dampak agar konsumsi kita tidak merugikan lingkungan, juga minim pengaruh agar konsumsi kita tidak mempengaruhi kehidupan orang lain.

Alih-alih membeli barang yang asal murah, sebaiknya Moms membeli barang berkualitas yang sustainable dan tepercaya. Tepercaya ingredients-nya, tepercaya packaging-nya, terpecaya waste management-nya, dan tepercaya human resource management-nya. Dengan demikian, kita tidak hanya menjadi seorang minimalis yang egois tetapi peduli pada kelangsungan hidup bumi dan segala isinya.

Keren sekali, kan?

Sayang sekali kalau Moms tidak membaca bukunya sendiri. Silakan cari di toko buku kesayangan, ya!


Comments

Popular posts from this blog

"My Minimalist Life Journey" Book Launching Webinar & Kick Off MMID Class Series