Panduan Belanja Perlengkapan Bayi Ala Ibu Minimalis
Apakah Moms sedang mencari referensi untuk membeli perlengkapan bayi yang sebentar lagi akan launching? Atau Moms sedang bingung mau membeli apa saja yang lebih dibutuhkan oleh bayi? Kini, Moms tidak perlu bingung lagi karena Moms sedang berada di artikel yang tepat.
Saya akan sharing pengalaman tentang panduan belanja perlengkapan bayi ala ibu minimalis versi saya sendiri. Saya sudah dua kali merasakan bagaimana hebohnya membeli kebutuhan bayi saat saya tidak memiliki skala prioritas di kelahiran yang pertama. Namun, saat di kehamilan kedua, saya banyak belajar dari pengalaman pertama hingga tidak lagi kewalahan di persiapan kelahiran kedua.
Panduan belanja perlengkapan bayi ala Ibu minimalis adalah dengan menerapkan pola “Tidak semua harus dibeli.”
Saya sangat paham betapa kita ingin memenuhi semua kebutuhan sang bayi. Apalagi anak pertama yang sangat dinanti. Namun, bukan berarti semua harus kita penuhi saat itu juga. Berdasarkan pengalaman pribadi nih. Dahulu, saat sudah tahu jenis kelamin anak biasanya setiap melihat produk yang lucu pasti selalu dibeli.
Apakah Moms melakukan hal yang sama? Padahal, saat kita beli pun entah kapan barang itu akan dipakai. Ya kan? Jadi, bagaimana solusinya agar kita membeli kebutuhan bayi sesuai dengan skala prioritas? Kira-kira seperti ini yang saya lakukan kemarin:
1. Membeli kebutuhan pokok terlebih dahulu
Kebutuhan pokok bayi apa saja? Tentunya akan ada banyak. Namun, belilah yang benar-benar sesuai kebutuhan dan sesuai prioritas dahulu. Untuk bayi yang baru lahir, yang pasti dibutuhkan adalah:
- Bedongan bayi
- Popok bayi
- Printilan bayi (gunting kuku, kasa, tisu)
- Alat mandi (bak mandi, sabun)
- Gendongan Bayi
Nah, kurang lebih itu yang sangat urgent dan harus kita penuhi terlebih dahulu. Namun, perlu diingat untuk membeli semua barang tidak perlu dalam jumlah besar, ya. Untuk bedongan bayi sekitar 1-2 lusin sudah sangat cukup. untuk popok mungkin butuh lebih banyak karena memang tiap waktu harus sering diganti. Akan lebih hemat kalau ibu memakai popok kain yang bisa dipakai berulang. Belilah sekitar 2-3 lusin.
Untuk printilan bayi cukup beli per item 1 buah. Pastikan membelinya dengan kualitas yang baik. Meski kita mengeluarkan budget yang lebih, perlu diingat konsep dari minimalis ini bukan membeli produk dengan harga yang sangat minim, melainkan membeli produk dengan kualitas terbaik. Lalu, bila dihitung dengan kualitas dan umur barangnya pasti akan lebih awet lama juga. Pastinya, akan lebih hemat juga, kan.
Untuk bak mandi pun cukup satu. Kalau mau yang lebih fleksibel dan bisa dibawa ke mana-mana supaya kalau staycation atau kerumah saudara enggak bingung, belilah yang bisa dilipat. Harganya memang jauh lebih mahal, tetapi bener-bener awet dan kualitasnya memang bagus.
Sama halnya dengan sabun mandi bayi. Tidak perlu beli berbagai jenis sabun, tetapi cukup beli satu produk yang memang pas di kantong kita dan cocok untuk bayi kita. Kalau memang ragu apakah cocok atau tidak dengan anak kita, belilah yang ukurannya kecil dahulu. Kalau memang tidak cocok, nanti bisa diganti. Lalu, kalau cocok bisa dilanjutkan. Usahakan untuk tidak menggonta-ganti produk perawatan bayi, ya.
Untuk gendongan bayi, saya butuh setidaknya 2 gendongan. Satu kain jarik dan satu gendongan yang lebih kekinian seperti Ergobaby. Kalau di rumah, anak saya memang kadang digendong oleh orang tua saya dan mereka lebih terbiasa dengan gendongan kain. Namun, kalau bepergian supaya lebih simpel dan tidak pegal, kami memilih Ergobaby.
2. Tunda untuk membeli stroller
Saat satu hingga tiga bulan pertama, saya yakin banyak dari kita enggan untuk keluar dari rumah bersama bayi. Jadi, akan lebih baik membeli stroller ini ditunda dulu sampai kita membutuhkannya. Karena, kalau beli saat anak baru lahir pun, stroller ini belum tentu akan terpakai.
Itulah sedikit ulasan sesuai pengalaman saya dalam belanja perlengkapan bayi ala ibu minimalis. Semoga dapat memberikan sedikit pencerahan untuk para ibu yang sedang mempersiapkan kelahiran sang buah hati, ya.
Comments
Post a Comment