Seni Melepaskan Diri dari Kemelekatan (Barang)
Beberapa waktu lalu, masyarakat "dihebohkan" dengan tragedi laka lantas yang menewaskan sepasang pasangan suami istri dan meninggalkan anak mereka yang masih bayi. Tak hanya pihak keluarga, kerabat dan sahabat pun merasa kehilangan.
Pelajaran apa yang didapatkan? Ya, salah satunya tentang melepaskan.
Bicara tentang melepaskan, disadari atau tidak, terkadang kita masih sulit melepaskan sesuatu barang (atau bahkan lebih), padahal barang itu sudah tidak kita butuhkan atau padahal barang itu sudah tidak kita pakai. Ya, hanya atas dasar sulit melepaskan.
Memang sebenarnya bagaimana sih hubungan manusia dengan barang?
Pada dasarnya, hubungan manusia dengan barang adalah hubungan satu arah. Hal ini bisa mengartikan beberapa hal:
- Manusia membutuhkan barang, bukan barang membutuhkan manusia.
- Manusia mengontrol barang, bukan barang yang mengontrol manusia.
- Manusia memberi makna pada barang, bukan barang yang memberi makna pada manusia.
Akan tetapi, nyatanya hubungan manusia dan barang ternyata bisa menjadi "rumit" bahkan di luar nalar. Contohnya, orang-orang yang terlalu sayang dengan barangnya, selalu membawanya kemana pun ia pergi, hingga sulit melepaskan. Jika memang barang itu membantu kehidupannya dimana pun, tentu saja tidak masalah.
Ada beberapa kasus di mana manusia itu "menikahi" barang. Di Jepang sendiri fenomena lelaki paruh baya "menikahi" boneka bahkan beberapa kali terjadi. Di Indonesia sendiri, beberapa waktu lalu saya melihat sebuah berita tentang seorang laki-laki "menikahi" rice cooker. Entah untuk mencari sensasi atau memang niat dari hati.
Padahal barang-barang diciptakan untuk membantu kehidupan kita, tetapi kenyataannya mereka membelenggu hidup kita. Kemelekatan manusia dengan barang biasanya terjadi karena ada cerita dan memori di balik barang tersebut. Sayangnya, cerita tersebut tak selalu yang baik. Sebagian orang memiliki cerita buruk pada barang, tetapi tetap memilih menyimpannya. Akibatnya, bukan tidak mungkin hidupnya dipenuhi dengan negativity.
Memang sebenarnya, perlu tidak sih manusia memiliki kemelekatan dengan sesuatu?
Melekat dan melepaskan adalah aktivitas berpasangan sebagaimana makan dan minum, setelah makan tentu kita akan minum. Begitu pun dengan melekat. Setelah melekat, ada kalanya kita harus melepaskan. Hal itu adalah fitrah dari manusia dan dihadapi dalam keseharian.
Contoh paling dekatnya adalah ketika seorang ibu melahirkan bayi. Terbangun kemelekatan antara ibu dan bayi melalui IMD dan dilanjutkan proses menyusui hingga usia 2 tahun. Setelah usia 2 tahun, ibu harus "melepaskan" bayi dengan menyapihnya.
Relate kan, Moms?
Balik lagi ke pertanyaan, perlukah kita memiliki kemelekatan dengan sesuatu?
Selain kasus ibu dan bayi, jawabannya adalah tidak. Bahkan dalam kasus ibu dan bayi, kemelekatan yang dimiliki keduanya sewajarnya saja, agar tidak sulit jika sewaktu-waktu salah satunya harus melepaskan. Ya, sesuatu yang berlebihan memang tidak baik.
Tidak memiliki kemelekatan bukan berarti kita tidak peduli.
Kita tidak perlu memberikan rasa kemelekatan pada barang, yang perlu kita berikan pada barang-barang kita adalah sense of belonging alias rasa kepemilikan yang akhirnya membuat kita sepenuh hati merawatnya.
Apa perbedaan dan persaman antara kemelekatan (attachment) dan rasa memiliki (sense of belonging)?
Persamaannya, keduanya sama-sama dirasakan oleh manusia. Perbedaannya, kemelekatan adalah rasa yang terlalu tinggi, membuat sulit melepaskan. Sementara rasa memiliki adalah mensyukuri dan merawat, tetapi juga kesadaran bahwa Tuhan yang memiliki.
Definisi Melepaskan
Sebagaimana yang saya sampaikan, melekat dan melepaskan adalah aktivitas kesatuan. Melepaskan bisa didefinisikan dengan keluar dari ruangan tertutup dan belenggu baik secara konotatif maupun denotatif. Melepaskan bukan untuk membuat kita menjadi menderita. Melepaskan juga tidak sama dengan melupakan.
Melekat dan melepaskan ibarat menerima dan memberi. Dalam menerima dan memberi haruslah seimbang. Karena teko yang terus menerus "diisi" akan luber jika tidak menuang ke gelas gelas kecil lainnya. Namun jika ia terus menuang tanpa diisi pun lama kelamaan akan kehabisan.
Dampak Melepaskan & Tips Melakukannya
Ada beragam manfaat atau dampak positif yang dirasakan ketika kita tidak memiliki kemelakatan berlebih dan mampu melepaskan. Pertama, munculnya rasa lega atau bebas dari belenggu atau kungkungan. Kedua, munculnya perasaan contentment. Ketiga, meminimalisasi rasa "take for granted".
Lantas bagaimana tips agar melepaskan jadi lebih mudah, khususnya pada barang? Ada dua tips utamanya.
1. Jujurlah pada diri sendiri
Tanyakan pada diri apakah kita membutuhkan barang tersebut atau tidak. Tidak perlu menahan jika memang tidak butuh, pun tidak perlu tergesa melepaskan jika memang masih dibutuhkan. Ya, tidak masalah menyimpan barang kenangan selama ia memberikan kenangan baik atau meminjam istilah Marie Kondo, sparks joy. Namun sebaliknya, jika memberikan kenangan buruk, rasa-rasanya tidak ada alasan untuk tidak melepaskannya.
2. Berlatih Mindfulness
Mindfulness adalah sebuah kondisi di mana kita hadir pada momen saat ini, tidak terlalu larut ke masa lalu, tidak juga cemas terhadap masa depan. Live in the moment, be present. Latihan mindfulness artinya kita mengakui history dan story barang tersebut, tetapi tetap melihat realita saat ini; perlukah kita menyimpannya atau sebaiknya melepaskannya?
Mindfulness juga mengajarkan kita akan sikap bijak, melepaskan jika memang tidak lagi diperlukan.
Apakah Melepaskan Berkaitan dengan Kesehatan Mental?
Jawabannya, ya. Bayangkan diri kita adalah sebuah busa dan kemelekatan adalah benang-benang. Busa yang dililit benang-benang terlalu banyak tentunya akan sulit membuatnya "bernafas". Begitu pun dengan diri kita, jika terlalu penuh dengan kemelekatan apalagi yang terlalu kuat, akan sulit menerima kehadiran saat ini.
Tidak hanya kesehatan mental, melepaskan juga berkaitan dengan kesehatan fisik.
Pengalaman Melepaskan
Rasa-rasanya setiap orang punya pengalaman tersendiri dalam melepaskan. Mom Maya Hikmatin, pendiri Lepas Wear, juga mengalaminya. Ketika menikah dahulu, sang (calon) suami memberinya seserahan berupa sepasang sepatu yang diidamkannya. Seiring berjalannya waktu, sepatu tersebut sangat jarang dipakai namun mom Maya mengaku sulit sekali melepasnya. Salah satu alasan terbesarnya karena memori di sepatu tersebut.
Sampai akhirnya, salah seorang teman beliau yang juga berprofesi sebagai penyanyi bercerita sedang membutuhkan pinjaman sepatu untuk konser yang akan diisinya. Secara kebetulan, kriteria sepatu yang dibutuhkan sangat persis dengan sepatu mom Maya. Setelah menimbang dan berdiskusi dengan suami, akhirnya beliau melepaskan sepatu tersebut dengan memberikannya pada temannya yang jelas lebih membutuhkan. Sang teman tentu merasa sangat bahagia menerimanya.
Saya pribadi pernah mengalami peristiwa yang sedikit banyak. Bedanya jika mom Maya adalah sepatu seserahan, sedangkan saya adalah baju anak ketika masih bayi. Saat itu sulit sekali rasanya melepaskan padahal saya dan suami tidak berencana memiliki anak kembali dalam waktu dekat, kami menjeda selama beberapa tahun. Tapi sungguh sulit bagi saya untuk melepaskannya.
Hingga akhirnya saya menemukan sebuah postingan di salah satu grup Facebook, seorang ibu yang mengaku membutuhkan baju-baju bayi. Hati saya terenyuh
Dari kedua kisah di atas saya mengambil hikmah, teman mom Maya dan ibu di Facebook tersebut adalah perantara-Nya agar kita mudah melepaskan. Tentu bukan sekadar melepaskan, tetapi untuk dimanfaatkan sehingga usia barang lebih panjang.
Namun, melepaskan pun saya akui butuh waktu, tidak perlu tergesa-gesa, tetapi jangan juga terlalu berlarut-larut. Semoga kita semua dimudahkan dalam melepaskan dan utamanya mengontrol diri untuk memiliki karena mencegah lebih baik daripada memilah dan melepaskan, bukan?
Jangan lupa untuk memiliki rasa memiliki agar kita merawat barang dengan baik. Kehilangan barang berharga murah mungkin tidak mempengaruhi finansial kita, tetapi itu memberikan dampak lingkungan.
Referensi: Live Instagram "Seni Melepaskan dari Kemelekatan (Barang)" bersama Maya Hikmatin
Kontributor: Evi Syahida
Comments
Post a Comment