12 Dampak Hidup Minimalis Ala Fumio Sasaki
Ketika menjalani hidup minimalis tentunya ada beragam dampak yang kita rasakan dari segala aspek kehidupan baik itu finansial, spasial, sosial bahkan hingga psikologis. Fumio Sasaki, seorang minimalis dari Jepang yang juga penulis buku Goodbye Things, juga mengalaminya. Dia yang mulanya seorang maksimalis dengan begitu banyak barang di hunian, memutuskan untuk mengurangi barang yang dimiliki dan tidak lagi dibutuhkannya.
Berikut ini dampak hidup minimalis yang dirasakan oleh Fumio Sasaki, terutama sejak berpisah dari barang-barang kepemilikan yang berlebih.
1. Punya lebih banyak waktu
Fumio menyadari bahwa semakin banyak barang yang dimiliki, semakin banyak waktu "tersita". Pun sebaliknya, semakin sedikit barang, semakin sedikit waktu "tersita". Luas tempat tinggal yang kita huni juga mempengaruhi. Akhienya dampak dari itu semua adalah hemat waktu mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Tak hanya oleh barang, waktu yang dimiliki juga bisa berkurang karena disita oleh media dan tayangan iklan karena ia menjadi semakin sadar sudah memiliki segala yang dibutuhkan dan "dijejali" oleh iklan yang bertebaran.
Kita tidak bisa mengontrol iklan yang bermunculan tapi kita bisa mengontrol diri untuk tidak mengkonsumsi apalagi sampah tergoda iklan. Menjalani hidup minimalis juga membuat Fumio bisa menghemat waktu belanja karena sudah menyederhanakan pilihan dan menentukan prioritas.
Fumio juga tak perlu menghabiskan banyak waktu untuk mencari barang dan bermalas-malasan. Ia bahkan bisa keluar rumah hanya dalam waktu 30 menit.
2. Lebih menikmati hidup
Tanpa banyak barang, Fumio merasa tiga kali lebih mudah membersihkan barang. Ia juga merasa lebih damai dan nyaman karena terbias mengembalikan barang pada tempatnya sehingga barang-barang dalam keadaan rapi. Fumio mengaku lebih menikmati tinggal di hunian yang kecil (ia tinggal seorang diri dalam apartemen berukuran 25meter persegi).
Ia tidak lagi merasa harus mencapai sesuatu dengan ambisus. Ia merasakan kepuasan yang sesungguhnya terhadap kehidupan sehari-hari.
3. Kebebasan bertambah
Yang ia maksud dengan kebebasa disini antara lain bebas untuk bergerak, bebas memilih gaya hidup baru, bebas dari tekanan ekonomi, merdeka dari citra diri tertentu dan bebas dari ketamakan.
4. Tak lagi membandingkan diri dengan orang lain
Fumio menyadari bahwa pengalaman hidup tidak bisa dibanding-bandingkan, berbeda dengan barang yang sangat bisa dibandingkan lewat harganya. Ketika berpisah dengan barang-barang kepemilikan, ia juga berpisah dari proses membandingkan diri sebab ia tak lagi memiliki benda yang dulu digunakan untuk mengukur diri terhadap orang lain. Kini fokus dirinya berubah dari orang lain ke diri sendiri.
5. Berhenti mencemaskan pandangan orang lain terhadap dirinya
Funuo sangat hobi memotret. Ia yang dulu suka mengoleksi kamera, semata-mata hanya untuk dipajang dan dipandang "hebat". Ia cemas jika orang lain memandang dirinya rendah. Namun kini ia mampu melepaskan ego dan rasa was-was yang mengganggu. Ia tidak lagi mencemaskan pandangan orang lain terhadap dirinya.
6. Lebih terlibat dengan dunia sekitar
Karena tak lagi mencemaskan pandangan orang terhadap dirinya, Funuo mengaku menjadi pribadi yang tak lagi seba tertutup. Menurut Fumio, pengalaman yang didapat lewat berinteraksi dengan dunia luar tak seperti benda, ia tak dapat direbut oleh siapapun. Pengalamannya hanya milik dirinya.
7. Daya fokus menjadi lebih baik
Barang yang kita miliki sesungguhnya mengirimkan "pesan tugas" pada diri kita. Terlalu banyak barang artinya terlalu banyak daftar tugas, membuat daya fokus pecah, begitupun sebaliknya. Sedikit barang, sedikit daftar tugas, daya fokus lebih baik. Tak hanya pada barang, tapi juga berlaku pada pikiran kita.
8. Lebih hemat dan peduli lingkungan
Dengan lebih sedikit barang, biaya perawatan yang dikeluarkan Fumio lebih sedikit.h hasil dari penjualan barang juga menambah pendapatan. Menerapkan minimalisme juga memungkinkan Fumio lebih produktif sehingga meningkatkan efisiensi dan pendapatan. Menerapkan minimalism e juga membuat Fumio sadar bahwa negeri pada dasarnya terbatas dan akhirnya memutuskan untuk menghemat penggunaan energi dan meminimalkan limbah yang timbul akibat konsumsi pribadi.
9. Lebih sehat dan aman
Menerapkan minimalisme secara tidak langsung mengurangi berat badan Fumio karena konsumsi yang tak lagi berlebihan melainkan secukupnya. Fumio juga jadi lebih sadar dalam setiap makannya. Bicara soal aman, sedikit barang yang dimiliki membuatnya memiliki minimal resiko ketika terjadi bencana terlebih bencana gempa bumi yang kerap terjadi di Jepang.
10. Hubungan antarpribadi lebih bermakna
Dari hasil wawancara Fumio dengan para minimalis terutama yang sudah berkeluarga, mereka lebih sedikit bertenggar dan lebih banyak merasa bahagia karena minimnya barang yang dimilik. Fumio juga punya mindset baru bahwa semua orang adalah manusia biasa sehingga tidak ada lagi rasa iri.
11. Menikmati momen yang tengah berlangsung
Mirip-mirip dengan menikmati hidup, Fumio tidak lagi memikirkan masa depan dan terlarut dalam masa lalu melainkan menikmati masa kini
12. Merasakan syukur yang sebenarnya
Fumio merasa rasa syukur justru lebih banyak timbul ketika dirinya memiliki lebih sedikit barang. Ia lebih mudah bersyukur, tak perlu menunggu punya barang baru atau mewah. Dengan rasa syukur ia juga bisa meminimalisasi rasa bosan yang muncul dan menjadikannya merasa cukup.
.png)
Comments
Post a Comment