Tiga Rekomendasi Buku Bertema Lingkungan & Minimalism
Kehadiran buku-buku bertema sustainability atau keberlangsungan lingkungan yang dikemas dengan bahasa populer sangat membantu bagi kita yang ingin memahami dan mempraktikkan gaya hidup berkelanjutan. Dalam memperingati Hari Bumi yang jatuh pada 22 April, Minimalist Moms Indonesia berkolaborasi dengan Buibu Baca Buku Book Club mengadakan sesi diskusi rekomendasi buku bertema sustainability & minimalism pilihan kita.
Apa saja rekomendasi buku-bukunya? Check it out!
Sustaination
Bukunya tidak terlalu tebal. Ada 12 chapter di dalamnya sehingga menjadikan buku ini lumayan padat, singkat dan tepat apa yang mau dibahas. Bahasanya ringkas dan mudah dipahami oleh orang awam.
Ada langkah praktis membuat kaldu sayur dan mengompos. Buku ini bisa memberikan introduction yang baik tanpa harus orang berat memahami less waste, sustainability, dan sejenisnya. Ilustrasi di dalamnya juga menambah ketertarikan membaca buku ini.
Jika dihubungkan dengan minimalism, buku ini sangatlah relatable. Dalam minimalism kita mengenal istilah 3R sebelum membeli sesuatu. Nah dalam buku ini, penulis berinisiatif memaparkannya dalam bentuk diagram ilustrasi 6R sebagai berikut: Rethink, Refuse, Reduce, Reuse, Recycle dan ROT.
Dimulai dari rethink, berpikir ulang apakah kita membutuhkan barang ini. Jika kita membelinya, sampahnya mau dikemanakan. Pola pikirnya sangat menarik. Sustainability bukan soal kepraktisan saja tapi juga soal mindset bahwa ini bukan soal sampah plastik bisa didaur ulang tapi bagaimana kita bisa memanfaatkan apa yang ada terlebih dahulu dan memikirkannya kembali seberapa perlu.
Di buku ini ada bagan alur berpikir tentang sebelum membeli barang. Mulai dari butuh atau tidak, sampai jika rusak bisa diperbaiki atau tidak, dan seterusnya.
Ini sangatlah menarik karena zaman sekarang rasanya "budaya" meminjam mulai jarang. Selain itu, ada pula pemikiran bahwa barang rusak tidak bisa diperbaiki atau orang-orang lebih memilih langsung menyingkirkan dan mengganti barang dengan yang baru daripada memperbaiki. Padahal perlu sekali kita menanamkan mindset bahwa barang yang rusak sangat bisa dipertimbangkan untuk diperbaiki terlebih dahulu.
Tidak hanya penerapan di rumah, di dalam buku ini juga menjelaskan zero waste dalam bisnis dan zero waste ketika traveling.
Goodbye Things
Ada lima bab di dalamnya antara lain; mengapa minimalisme, mengapa kita mengumpulkan begitu banyak barang, 55 kiat berpisah dari barang, 15 tambahan untuk tahap selanjutnya dalam menjalani minimalisme, 12 dampak berpisah dari barang-barang dan menjadi bahagia alih-alih merasa bahagia.
Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman personal penulis. Tak hanya itu, buku ini juga memberikan kiat dan tips yang sangat bisa dipraktikkan. Penulis juga menuliskan dampaknya ketika menjalani hidup minimalis. Salah satunya yang berkaitan dengan dampak lingkungan yaitu lebih sadar terhadap apapun yang beliau putuskan sangat mempengaruhi lingkungan. Seperti apapun yang dibeli sangat berdampak ke lingkungan.
Minimalisme yang dipaparkan dalam buku ini tidak hanya soal mengurangi barang dan menata barang melainkan juga bagaimana menerapkan minimalisme dalam pikiran, perasaan, dan jadwal. Contohnya dengan tidak memadati jadwal dan hanya fokus pada yang prioritas.
Di buku ini juga fokus pada tiga kata kunci: cukup, syukur dan sadar. Penulis mengajak kita fokus pada momen hari ini, tidak merasa dihantui oleh masa lalu dan masa depan, serta selalu bijak dalam mengambil keputusan, memikirkan dampaknya ke depan tidak hanya pada diri sendiri tapi juga lingkungan.
"Membeli bukan karena punya budget, tapi karena butuh dan memikirkan pasca konsumsi atau pemakaian."
Di buku ini, tepatnya di bagian awal, juga diceritakan kisah awal penulis "hijrah" ke minimalisme. Bermula ketika beliau tinggal di apartemen yang cukup luas tapi merasa kesempitan ternyata karena banyaknya barang yang dimiliki. Hingga akhirnya penulis berproses mengurangi barangnya dan merasakan berbagai dampaknya.
Selai itu, dipaparkan bahwa pada dasarnya nenek moyang orang Jepang sudah menerapkan minimalisme. Hal ini sejalan dengan di Indonesia yang pada dasarnya nenek moyang kita juga sudah mengajarkan pada kita value minimalism. Oh ya, penulis juga merasakan dampaknya ketika menjadi minimalis hanya butuh kurang dari 5 menit untuk pergi keluar rumah saking sedikitnya barang yang dibawanya.
Berbicara tentang minimalism, life style ini memang membuat kita fokus pada yang penting bagi kita saja termasuk dalam kehidupan maya.
Ada beberapa alasan atau motivasi untuk menerapkan minimalisme antara lain:
- Motivasi spiritual, berkaitan dengan ajaran agama dan perintah-Nya.
- Motivasi finansial, berkaitan dengan kondisi ekonomi seseorang.
- Motivasi spasial, berkaitan dengan ruang yang dimiliki.
- Motivasi sosial, berkaitan dengan kebahagian berbagi terutama setelah decluttering.
- Motivasi psikologis, berkaitan dengan kondisi psikologi seseorang.
Hemat Sampah Pangkal Kaya
Ditulis secara personal oleh dua penulis yang merupakan founder Cleanomic, penulis sangat bisa menempatkan dirinya bahwa dia belum sempurna. Ini membuat membaca sangat menghargai dan berpikir "i am not alone".
Ini mengingatkan kita pada sebuah kasus viral di Twitter beberapa lalu tentang seorang customer online food delivery yang memesan tanpa cuttlery namun ternyata pihak restoran tetap memberikan. Tentu saja ini membuat customer protes, tetapi respon netizen menganggap customer ini berlebihan. Padahal memang hal seperti itu tidak bisa "dibiarkan" atau dimaklumi terus-terusan. Ini memag langkah kecil, tetapi jika konsisten dilakukan bisa berdampak luas.
Buku ini masuk ke kategori finance. Bicara soal lingkungan memang secara tidak langsung berkaitan dengan ekonomi, baik skala kecil maupun besar.
Pembukaannya diawali dengan strong why dan fakta seputar sampah di Indonesia, serta pengenalan seputar zero waste. Penulis juga mengajak kita untuk turut empatik dengan pemikiran penulis.
Jika sekarang aku tidak peduli terhadap bumi, bagaimana nasib anak cucu kelak? Bagaimana jika mereka bertanya apa yang aku lakukan dulu sampai saat mereka besar, bumi menjadi rusak?"
Ada juga prinsip SKS (Sebelum Konsumsi, Konsumsi, dan Setelah Konsumsi) dalam buku ini yang diterjemahkan dalam bentuk bagan. Konsepnya hampir serupa dengan yang ada di buku Sustaination, tetapi ada penambahan apa yang bisa kita lakukan jika sudah selesai mengkonsumsi seperti memilah, mengkompos, dan menyalurkannya ke dropbox.
Buku yang penuh dengan ilustrasi ini makin menambah ketertarikan pembaca dan kemudahan dalam memahami.
Berbicara soal lingkungan, pada praktiknya memang diperlukan komitmen. Terlebih untuk kita para ibu, perlu komitmen dan kerjasama seluruh anggota keluarga. Tantangan lainya pun pasti ada. Namun, tetap tidak perlu menunggu sempurna, mulai saja dulu. Yang terpenting, keep waras ya, mom!
Di bagian akhir buku juga dibahas tentang green investment, bagaimana penulis berinvestasi pada instrumen yang berkaitan dengan kepedulian terhadap lingkungan. Ada bagan seleksi investasi hijau juga, sesuatu yang rasanya baru bagi sebagian besar orang.
Ini membuat pembaca ketika ingin mengambil keputusan harus mencermati dan mencari tahu terlebih dahulu.
Kembali ke gaya hidup yang bikin hemat. Rasanya masih banyak yang sulit menerima karena kenyataan bahwa barang yang lebih eco friendly, sustainable, dan sejenisnya ternyata lebih mahal di pasaran. Ini mungkin karena masih jarangnya produsen dan masih sedikitnya permintaan. Inilah tantangan besar untuk produsen. Namun, kita sebagai konsumen bisa mensiasatinya dengan memakai barang yang ada.
"Hal yang paling bisa dikontrol adalah diri sendiri. Mengontrol diri sendiri terkadang artinya adalah melawan diri sendiri."
Isu-isu yang ada di dunia pastinya sangat dan saling berkaitan mulai dari gender issue, lingkungan, ekonomi dan lain sebagainya. Ini masih menjadi PR bagi kita, kita perlu lebih banyak membuka wawasan, diskusi, banyak dengar. Hal ini akan berdampak ke diri kita dan anak anak kita. Apapun yang kita lakukan, kita putuskan akan memberikan dampak itu perlu kita sadari dan tanamkan. Tetap membaca, membuka diri dan mengedukasi diri.

.png)


Comments
Post a Comment