Slow Fashion, Apa dan Bagaimana?
Berapa banyak baju yang Moms beli setiap tahunnya? Sepuluh? Atau lebih dari dua belas? Yang artinya, setiap orang minimal membeli satu baju baru per bulannya. Secara kasat mata, mungkin akan ada yang mengatakan tidak masalah. Toh uang-uangnya sendiri. Tapi masalahnya, dalam pembuatan satu baju, terdapat jejak polusi industri.
Berdasarkan data dari Ellen MacArthur Foundation, sebuah badan yang fokus mempelajari polusi industri mode, limbah dari bisnis fashion di dunia telah mencapai angka 500 miliar US dollar per tahun. Setidaknya 15% perca terbuang sia-sia. Sementara itu, pembuangan limbah sintetis ke laut mencapai 1,5 ton per tahunnya. Mulai dari pewarna yang digunakan, hingga air yang dipakai untuk mencuci pakaian terbaru.
Jejak polusi di atas tentu menjadi masalah bagi lingkungan. Oleh karena itu, sudah sewajarnya kita mulai menyadari dan melakukan sesuatu. Misalnya dengan menerapkan slow fashion.
Apa Itu Slow Fashion?
Slow fashion adalah praktik dalam industri mode yaitu memproduksi pakaian dengan mempertimbangkan semua aspek dalam rantai pasokan. Produsen menghabiskan lebih banyak waktu untuk proses desain. Dengan kata lain, memastikan bahwa pakaian yang dibuat memiliki daya tahan dan kualitas yang tinggi sehingga bisa dipakai dalam rentang waktu yang lama. Proses produksi juga ramah lingkungan. Koleksi pakaian yang tercipta dikuratori dengan penuh perhatian sehingga hasil akhirnya berkualitas.
Slow Fashion vs Fast Fashion
Apa bedanya slow fashion dengan fast fashion? Fast fashion adalah yang kita kenal dengan proses produksi pakaian trendi secara musiman, dan dalam jumlah besar. Kualitas pakaian menurun, karena industri mode berfokus pada produksi pakaian murah yang tidak tahan lama.
Pada fast fashion, lingkungan dan pekerja juga dieksploitasi karena industri harus menghasilkan pakaian secara massal, dan silih berganti dalam waktu yang cepat. Akibatnya, konsumerisme pun meningkat.
Bila slow fashion lebih mementingkan kualitas pakaian yang bisa digunakan dalam jangka panjang, maka fast fashion lebih fokus kepada kuantitas dan produksi yang cepat.
Selain itu, bahan baku yang dipilih juga berkualitas rendah dan tidak ramah lingkungan. Dampaknya, pakaian menjadi tidak tahan lama. Pengguna terpaksa membuang atau mengeluarkan baju yang sudah tidak layak pakai dari lemari. Lalu membeli yang baru. Begitu terus, tanpa terasa sudah banyak pakaian yang keluar masuk lemari.
Bagaimana Cara Menerapkan Slow Fashion?
Berdasarkan hasil wawancara Forbes, Kristi Soomer, pendiri dari Encircled menyampaikan bahwa kunci utama slow fashion berada di tangan konsumen. Kristi mengharapkan agar konsumen lebih penasaran dan mencari tahu tentang pakaian mereka.
Survei mengatakan bahwa sebagian besar orang hanya mengenakan 20% dari pakaian di lemari mereka. Oleh karena itu, konsumen diharapkan hanya membeli pakaian yang mereka butuhkan. Lebih baik konsumen memilih pakaian yang tidak trendi, tapi berkualitas baik sehingga bisa dipakai puluhan tahun. Dibandingkan membeli dalam jumlah banyak sesuai dengan tren.
Sebagai informasi, tiga puluh tahun yang lalu, industri fashion hanya memiliki 2-4 musim. Tapi sekarang, banyak industri yang berproduksi dengan 52 “musim mikro”. Fast fashion ini menghasilkan sampai 5000 gaya/tren mode per minggunya. Jumlah yang luar biasa karena konsumen mengikuti tren tersebut.
Langkah pertama yang bisa Moms lakukan adalah memilah mana pakaian di lemari yang benar-benar terpakai setidaknya satu kali dalam sebulan. Sisanya, donasikan atau hibahkan. Bila suatu hari Moms membutuhkan pakaian tertentu yang belum dipunya, cobalah untuk tidak membeli yang baru.
Moms bisa membeli baju lama (preloved). Preloved berarti pakaian tersebut dimiliki oleh seseorang lalu dijual kembali. Preloved disebut uga dengan second hand.
Moms juga bisa membeli baju thrifting. Bagi yang belum tahu, thrifting berarti membeli barang bekas (dalam hal ini pakaian) dengan harga yang lebih murah dari aslinya. Ada pula gerakan tukar baju. Moms bisa membawa sebuah baju, lalu ditukarkan dengan baju lain dalam acara tersebut.
Masih ada beberapa cara lain yaitu sewa baju, dan upcycling baju lama agar terlihat baru. Moms bisa menjahit sendiri atau menggunakan jasa penjahit. Cara-cara di atas dapat menekan polusi hasil industri mode karena tidak terjadi pembelian baju baru.
Bila Moms terpaksa membeli baju baru, maka pilihlah yang berkualitas tinggi sehingga bisa dipakai dalam waktu yang lama. Bukan membeli hanya berdasarkan tren semata.
Bagi Moms memiliki bisnis atau bekerja di industri mode, transparasi dan tanggung jawab terhadap proses produksi amat penting. Merek pakaian atau industri yang bertanggung jawab, otomatis akan memanusiakan pekerjanya, dan memperhatikan dampak produksi terhadap lingkungan.
Tentunya semua ini membutuhkan bantuan dari berbagai pihak, termasuk media. Besar harapan agar media memberikan perhatian terhadap slow fashion termasuk merek-merek yang berkomitmen terhadap slow fashion. Hal tersebut akan membantu konsumen untuk lebih bijak dalam membeli pakaian.
Referensi:
Kontributor: Dian Ismyama


Comments
Post a Comment