Belanja impulsif adalah bagian dari kegiatan konsumtif. Belanja Impulsif adalah belanja "iseng" yang tidak berdasarkan kebutuhan melainkan sekedar lapar mata, mengikuti hasrat dan keinginan. Akibatnya muncul timbunan barang yang tidak dibutuhkan, ruang menjadi sempit, mengganggu kondisi keuangan dan lebih parah lagi bisa membuat kita dengan mudahnya berhutang.
Lantas bagaimana membenahi kebiasaan belanja impulsif?
Membedakan Kebutuhan dan Keinginan
Ini adalah tahapan dasar membenahi belanja impulsif termasuk memulai hidup minimalis. Kebutuhan adalah sesuatu yang diperlukan sesuai dengan fungsi utama dan biasanya tidak terlepas dari kehidupan sehari hari. Sedangkan keinginan tidak memiliki keharusan untuk segera terpenuhi dan lebih bersifat tambahan jika kebutuhan sudah terpenuhi. Kebutuhan bisa jadi juga keinginan tapi keinginan tidak selalu menjadi kebutuhan.
Contoh keinginan tidak didukung kebutuhan, kita menginginkan home theater. Padahal TV di rumah sudah mencukupi kebutuhan kita akan hiburan.
Contoh kebutuhan, kita membutuhkan buku-buku untuk menunjang skripsi. Ini kemungkinan besar adalah kebutuhan.
Menutup Sumber "Stimulasi"
Keinginan biasanya muncul karena "stimulasi". Contoh, seseorang lebih impulsif belanja jika meng-install aplikasi e-commerce di gadgetnya. Sebagai antisipasinya, ada baiknya menginstall aplikasi hanya ketika butuh berbelanja.
Ingat, kita tidak bisa dan mungkin juga tidak berhak mengontrol orang lain, tapi kita bisa dan berhak mengontrol diri sendiri. Salah satu indikator kita sudah terbebas dari belanja impulsif adalah ketika sumber stimulasi itu hadir, tidak ada lagi perasaan untuk impulsif berbelanja.
Langsung Membeli Barang yang Dibutuhkan
Sebelum melakukan tips ini, pada dasarnya kita sudah harus bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan atau hasrat. Pastikan juga kita sudah "menutup" sumber sumber yang membuat kita lebih impulsif.
Sebelum belanja, buatlah daftar barang yang dibutuhkan. Saat belanja, fokuslah pada mencari barang yang dibutuhkan. Mungkin terlihat "saklek" tapi ini perlu dilakukan terutama jika kita abru mulai beralih dari belanja impulsif.
Nah jika belanja dilakukan secara daring, langsung saja mencari barang yang dibutuhkan. Boleh mempertimbangkan review dan harga, tapi sebaiknya kita punya batas waktu. Cermat membeli itu baik namun jika terlalu berlebihan, yang ada membuat kita overwhelmed. Setelah checkout, segera logout atau bahkan uninstall aplikasi (bagi yang belum bisa menahan godaan untuk tidak membuka aplikasi e-commerce) tidak perlu "iseng" scrolling.
Belanja Impulsif Tidak Membuat Bahagia
Sebagian dari kita mungkin menghilangkan stes, jenuh, bad mood dan perasaan negatif dengan belanja yang dianggap bisa membuat perasaan jadi lebih baik. Ya, untuk sesaat. Setelah barang dipakai 1-2 kali, kebahagiaan pun cenderung hilang.
Cobalah mengubah mindset bahwa belanja bukanlah cara (utama) untuk bahagia.
"Apakah itu berarti kita tidak boleh belanja untuk diri sendiri?"
Tentu saja boleh. Sekali lagi, pastikan sesuai kebutuhan dan keuangan. Misal, kita membutuhkan gadget untuk mendukung hobi. Tentu perasaan bahagia ketika berhasil membelinya akan berbeda dibanding membeli barang yang tidak dibutuhkan akibat belanja impulsif.
Berhenti Menjadi Pemburu Diskon
Iklan akan terus ada. Promosi ini dan itu akan terus berjalan tapi kebiasaan belanja impulsif kita harus dihilangkan. Jika biasanya kita selalu iseng belanja di tanggal cantik, cobalah mengurangi kebiasaan tersebut.
"Apakah itu artinya tidak boleh belanja di saat diskon?"
Tentu saja boleh memanfaatkan diskon untuk belanja, selagi belanja yang dibutuhkan. Contoh, kita membutuhkan pakaian dalam baru dan memanfaatkan momen diskon untuk membelinya.
Tidak Fanatik Terhadap Merek Tertentu
Loyal pada suatu merek tertentu pada dasarnya sah sah saja, terlebih jika kita sudah cocok dengan kualitas produk tersebut. Namun jangan sampai membuat kita fanatik yang akhirnya sedikit sedikit tidak mau ketinggalan produk terbaru dari merek tersebut padahal sebenarnya tidak sedang kita butuhkan.
Kita tidak bisa dan mungkin juga tidak berhak mengontrol orang lain, tapi kita bisa dan berhak mengontrol diri sendiri. Begitupun dalam belanja impulsif, tidak perlu menyalahkan pihak lain, tidak perlu mengutuk keadaan, fokuslah pada diri kita; miliki kontrol diri.
sumber gambar: freepik
Kontributor: Visya
Comments
Post a Comment