Bekerja merupakan bagian penting dari proses aktualisasi diri. Melalui pekerjaan, seseorang dapat menyalurkan potensi, membangun kontribusi, menjalin relasi, sekaligus menjemput rezeki untuk mencapai kemandirian finansial. Bekerja bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan hidup, tapi juga menjadi cara untuk meraih kehidupan yang lebih bermakna.
Namun, dunia kerja saat ini sering diwarnai dengan beban yang berlebihan. Dari tumpukan tugas hingga tekanan dateline, gangguan yang datang bertubi-tubi sering kali menciptakan kondisi kerja yang penuh distraksi. Hal ini tidak hanya berdampak pada produktivitas, tetapi juga pada kesehatan mental dan keseimbangan hidup pekerja.
Dalam situasi seperti ini, pendekatan minimalisme mulai banyak dilirik sebagai salah satu cara untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih tertata dan sehat. Prinsip minimalisme seperti menyederhanakan, merasa cukup, mengurangi clutter fisik dan mental, serta fokus pada yang esensial dinilai mampu mendukung produktivitas sekaligus menjaga kesejahteraan individu di tempat kerja.
Untuk mencapai tujuan tersebut, di hari Jumat, 4 Juli 2025 lalu, MMID bersama MUC Eco Movement mengadakan Fun Seminar dalam rangka Sustainability Day 2025 yang bertajuk "Less Waste and Minimalism at Work, Mulai dari Kantor Berdampak untuk Bumi". Mengundang dua narasumber inspiratif yaitu:
- Evi Syahida (founder MMID & @bukuberjalan.id, content creator minimalist living)
- Dewi Indriyani (Praktisi zero waste & eco living, inisiator @ecocreators.id & @pijakbumilearning).
Fun Seminar dibuka dengan membahas topik "Minimalism at Work" yang dibawakan oleh Evi Syahida. Membahas tak hanya soal minimalisme secara umum, namun juga tentang hubungannya dengan dunia kerja serta aksi nyata apa saja yang mulai bisa diterapkan.
Ternyata menerapkan minimalisme dalam lingkungan kerja sejalan dengan usaha untuk menciptakan budaya kantor yang lebih sehat dan produktif. Semua bisa dimulai dengan mengenali distraksi & kebisingan mental di tempat kerja. Notifikasi pesan yang muncul tanpa henti di laptop & smartphone termasuk salah satu distraksi juga, lho.
Setelah mengidentifikasi apa saja distraksinya, langkah selanjutnya adalah mengelola fokus, waktu, dan beban kerja. Ada beberapa strategi yang bisa membantu kita mengelola ketiga hal tersebut seperti metode time blocking & teknik Pomodoro.
Tak hanya distraksi mental, ruang kerja juga sebaiknya kita tata agar makin menunjang produktivitas. Menciptakan ruang kerja yang minimalis dan nyaman bisa dimulai dengan mengutamakan fungsi daripada estetika. Memilih warna netral dan mengurangi barang yang tidak perlu (decluttering) dapat dijadikan langkah lebih lanjutnya. Setelah decluttering, kita bisa merapikan atau organizing supaya ruang kerja semakin rapi dan nyaman.
Sesi dilanjutkan dengan paparan dari Dewi Indriyani yang mengenalkan minuman wedang sereh lemon. Minuman ini mudah untuk disiapkan dan bisa menjadi pilihan kudapan sehat di lingkungan kantor.
Muncul beragam pertanyaan pada sesi tanya jawab. Dari mulai bagaimana pandangan minimalisme terhadap personal color analysis & fast beauty, cara memperlakukan sampah dokumen kertas di kantor, serta cara mengkomunikasikan gaya hidup minimalis ke orang-orang terdekat.
Fun Seminar ini membantu mengenalkan, membuka mata, dan menambah sudut pandang tentang minimalisme yang bukan sekadar tren, tapi juga sebuah pilihan pendekatan yang relevan untuk menyeimbangkan kompleksitas dunia kerja masa kini. Di zaman modern ini, sudah saatnya dunia kerja memberi ruang bagi kesadaran dan kesederhanaan agar setiap individu bisa bekerja dengan lebih utuh, secara profesional maupun personal.
Karena memberi kontribusi untuk bumi bisa dilakukan dari mana saja, termasuk dari lingkungan kerja. Mulai dari kantor, berdampak untuk bumi!
Aksi ramah lingkungan & minimalisme apa saja, nih yang sudah kalian lakukan di kantor? Berbagi di kolom komentar, ya!
Comments
Post a Comment