MMID Book Discussion: Belajar Hidup Minimalis Lewat Buku "Digital Minimalism" oleh Cal Newport


"Di tengah hiruk pikuk notifikasi dan scroll tanpa henti, pernahkah diri kita merasa lelah tapi tak tahu mengapa?"


Hidup di era digital yang menawarkan segala kemudahan dalam mengakses informasi serta hal positif lain ternyata juga bisa membuat kita kehilangan arah dan memberikan efek negatif. Diantaranya fokus yang menurun, perhatian yang terpecah, bahkan berkurangnya waktu untuk diri sendiri dan keluarga.

Bulan Agustus lalu, MMID mengadakan diskusi buku berjudul "Digital Minimalism" yang dipandu oleh Evi Syahida. Ada banyak insight terkait hidup minimalis di dunia yang serba digital ini.


Buku "Digital Minimalism" oleh Cal Newport memperkenalkan sebuah filosofi yang dia sebut sebagai minimalisme digital. Menurutnya, kita bisa mengontrol dan menjadikan teknologi sebagai suatu hal yang bisa menunjang hidup kita, mengajak kita mengatur strategi tepat untuk mencapai tujuan tersebut.

Minimalisme digital memungkinkan kita untuk fokus pada dunia nyata tanpa terus-menerus melirik dunia maya, tetap update dengan perkembangan informasi tanpa menjadikan kita FOMO (fear of missing out). Intinya, menjadikan teknologi sebagai alat bantu yang bisa kita kendalilan, tidak sebaliknya.

Menurut Cal Newport, ada 3 prinsip utama minimalisme digital:

  • Aplikasi dan notifikasi yang terlalu banyak membuat kita kewalahan.
  • Pilih dan pilah teknologi dengan bijak sesuai keperluan.
  • Tentukan niat dan tujuan jelas dalam menggunakan teknologi. Tak hanya sekadar rekreasi.


Minimalisme digital bisa diterapkan dengan cara-cara berikut:
  • Evaluasi penggunaan gawai. Pilih fungsi yang benar-benar penting.
  • Refleksi dengan pertanyaan, "apakah ini penting, butuh, dan perlu?"
  • Mengambil jeda 30 hari. Jeda dari dunia digital sangat penting untuk menemukan diri kembali dan mencari tahu mana saja yang benar-benar kita butuhkan.
Selama jeda 30 hari ini kita bisa melakukan beragam kegiatan yang bukan daring yang berfokus pada diri.

Cal Newport menekankan pentingnya kita menghabiskan waktu untuk diri sendiri selama jeda 30 hari ini. Manusia adalah makhluk sosial yang mengalami solitude deprivation semenjak hadirnya teknologi digital--waktu sendiri kita terampas akibat interaksi dengan gawai.

Dengan menghabiskan waktu sendiri, manusia akan mampu meregulasi emosi dengan lebih baik serta lebih peka dalam mengidentifikasi kebutuhan dirinya.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan selama waktu jeda ini. Diantaranya:
  • Menyediakan waktu refleksi untuk diri sendiri,
  • Merutinkan hobi,
  • Menghabiskan waktu tanpa distraksi dengan orang terdekat,
  • Menentukan waktu khusus untuk mengecek gawai (misalnya di pagi, siang, sore selama durasi waktu tertentu).
Perkembangan teknologi dan gawai memang sangat masif dan tidak terhindarkan. Sebagai sosok yang memiliki akal, kita harus bisa memilih, memilah, dan bijak dalam berinteraksi dengan segala hal yang berkenaan dengan perkembangan tersebut.



Buku Digital Minimalism memberikan kita insight dan ragam cara agar kembali memiliki kontrol atas hidup di tengah gempuran distraksi digital. Siapkah kita menempuh jalan tersebut?

Sampai jumpa di Book Discussion berikutnya. Punya rekomendasi buku yang ingin dikulik bersama? Tulis di kolom komentar, ya!

Comments

Popular posts from this blog

"My Minimalist Life Journey" Book Launching Webinar & Kick Off MMID Class Series