MMID Room to Share Digital Wellbeing for Parents: Curhat Tantangan Ibu di Era Digital
Di era digital seperti sekarang, hampir semua hal bisa diakses lewat layar, dari mulai belajar, bermain, sampai bersosialisasi. Anak-anak kita pun semakin akrab dengan gawai, terlahir sebagai generasi yang native digital. Namun di balik semua perkembangan itu, para orang tua menyadari sebuah tantangan besar, bagaimana agar penggunaan gawai tetap bermanfaat tanpa menimbulkan banyak dampak negatif pada tumbuh kembang anak.
Berangkat dari keresahan tersebut, Minimalist Moms Indonesia (MMID) mengadakan sebuah ruang berbagi daring untuk para orang tua yang bertajuk "Digital Wellbeing for Parents: Curhat Tantangan Ibu di Era Digital", dilaksanakan melalui Zoom Meeting pada Minggu, 19 Oktober 2025. Menghadirkan narasumber seorang psikolog klinis yang juga ibu dari dua orang anak yaitu Annisaa Nur Rahmawati, M.Psi., Psikolog. Acara ini diikuti oleh anggota komunitas maupun peserta umum yang memiliki ketertarikan terhadap isu pengasuhan di era digital.
Sesi Berbagi yang Santai dan Aman
Sesi berbagi ini menjadi ruang diskusi yang hangat aman dan nyaman. Para peserta diajak berdiskusi dan bercerita tentang bermacam pengalaman dan dinamika membesarkan anak di dunia digital. Tentang kelebihan serta kelemahan, tentu tentang kekhawatiran peserta juga. Sebab, menurut berbagai studi dan juga temuan dari Kemenkes, penggunaan gadget berlebihan bisa menghambat perkembangan motorik, bahasa, dan sosial anak.
Banyak orangtua yang berbagi cerita tantangan sehari-hari: anak yang susah berhenti screen time, tantrum saat gadget diambil, atau mulai sulit fokus. Narasumber juga berbagi pengalamannya di lapangan baik sebagai psikolog maupun orang tua, mengatakan bahwa penyebab screen time anak yang tidak terkontrol adalah karena dari awal orang tua kurang jelas menentukan dan mengomunikasikan batasan screen time. Lewat sesi ini, para peserta diajak untuk merefleksi kembali soal pemberian screen time ke anak sambil saling bercerita soal tantangannya dalam keseharian.
Pendampingan dan Batasan Screen Time yang Jelas
Peserta bersama narasumber menilik satu kasus yang banyak dialami oleh para orang tua, yaitu pemberian gawai ke anak agar anak bisa "tenang" saat orang tua harus melakukan hal lain dan belum bisa mengawasi anak secara bersamaan. Satu hal yang dirasa pasti pernah kita alami dalam keseharian dan kita anggap biasa tapi ternyata memiliki efek negatif tersembunyi. Anak memang bisa "tenang" awalnya, namun nantinya akan memberikan berefek pada berubahya sifat anak dengan dua kutub yang sangat berbeda, antara anak akan menjadi terlalu aktif atau malah tumbuh dengan emosi yang datar.
Tentunya hal ini bukanlah yang kita inginkan. Semua orang tua pasti ingin anaknya tumbuh menjadi versi terbaik dirinya, namun bagaimana caranya jika dunia digital adalah dunia awam anak? Kuncinya adalah batasan yang jelas dan pendampingan.
Memberi Batasan Screen Time
Orang tua harus paham waktu minimal pemberian screen time untuk usia anaknya. Untuk usia 0-2 tahun tidak diberi screen time sama sekali. Lalu untuk anak usia 2-5 tahun maksimal waktu screen time adalah 1 jam. Lebih dari usia itu batasan waktunya adalah 2 jam.
Memberikan hari khusus untuk screen time juga bisa dijadikan opsi, tentu harus tetap memenuhi batas waktu sesuai usianya, ya. Dengan beberapa cara ini diharapkan anak akan paham bahwa ada waktu-waktu khusus untuk menikmati screen time, bukannya kegiatan yang bisa dilakukan kapan pun.
Pendampingan adalah Kunci
Narasumber juga menekankan pentingnya mendampingi anak saat screen time. Tentu, anak-anak kita yang sudah lekat dengan teknologi tak akan terhindarkan dari gawai dan screen time, maka tugas kita lah yang mengontrolnya lewat pendampingan.
Saat memberikan screen time pada anak, orang tua harus mendampingi untuk memberikan umpan balik kepada anak, jadi screen time anak tidak melulu harus satu arah, bisa juga kita jadikan momen bonding time. Orang tua bisa mengajak anak menceritakan kembali tentang tayangan yang ditonton atau permainan yang dimainkan, bertanya tentang tokohnya, atau mengajak anak mengamati mana saja yang baik dan tidak baik untuk dicontoh. Dengan begitu aspek perkembangan anak yang lain juga akan terasah.
Mendampingi anak dengan penuh perhatian jauh lebih efektif daripada sekadar membatasi tanpa penjelasan.
Dua hal yang telah dibahas sebelumnya menjadi highlight dalam sesi sharing. Jika kita bisa mengusahakan kedua hal itu, maka efek negatif screen time pada anak bisa kita cegah. Efek-efek negatif pemberian screen time berlebih pada anak diantaranya adalah kesehatan mata yang menurun, perilaku semakin hiperaktif, emosi meledak-ledak atau malah menjadi datar.
Jika sudah muncul perilaku ini pada anak maka jangan ragu untuk mencari bantuan pada ahli atau bisa juga kita ambil langkah pertama dengan menyetop terlebih dahulu rutinitas screen time pada anak.
Membesarkan anak di masa kini memang semakin banyak tantangannya, namun jika kita paham strateginya, bukan tidak mungkin anak akan tumbuh jauh lebih baik dari kita.
Semangat membersamai anak, Momsis! Apakah Momsis juga ada tips andalan mengontrol screen time anak? Berbagi di kolom komentar, ya!


Comments
Post a Comment