#BajuLamaRasaBaru Solusi Hemat Budget, Ruang dan Cegah Sampah Pakaian
Baju baru, Alhamdulillah
Tuk dipakai di hari raya
Tak punya pun tak apa-apa
Masih ada baju yang lama
Sepatu baru, Alhamdulillah
Tuk dipakai di hari Raya
Tak punya pun tak apa-apa
Masih ada sepatu yang lama
(Dhea Ananda)
Itulah sepenggal lirik dari lagu anak-anak tahun
90 an yang populer di Indonesia apalagi menjelang musim lebaran. Setiap musim
lebaran Idul Fitri tiba, seolah sudah menjadi tradisi dan kebiasaan banyak
orang untuk membeli baju baru guna memeriahkan hari raya. Tidak mengherankan
setiap tahunnya, ada tren fashion baju lebaran yang berbeda. Tahun 2023 ada
tren warna hijau sage. Tahun 2024 ada tren Shimmer & Shiny. Tahun 2025 ada tren
Abaya dan cokelat mahoni dan yang paling terbaru di tahun 2026 ini adalah tren gamis
“Rompi lepas, gamis Bini orang, gamis Istri Sah, hingga gamis Mertua Idaman.”
Lucu ya? hampir setiap musim lebaran selalu ada cerita tentang fashion terbaru.
Lantas dari mana sebenarnya tren ini dimulai?
Dilansir dari Kompas TV (5/5/2021), tradisi
beli baju Lebaran ternyata sudah ada sejak awal abad ke-20. Menurut orientalis
Belanda yang kala itu menjadi Penasihat Urusan Pribumi untuk Pemerintah
Kolonial, kebiasaan membeli baju baru ini terjadi pada abad ke-20.
“Di mana-mana perayaan pesta ini disertai
hidangan makan khusus, saling bertandang yang dilakukan oleh kaum kerabat dan
kenalan, pembelian pakaian baru, serta berbagai bentuk hiburan yang
menggembirakan,” tulis Snouck dalam suratnya yang termuat dalam Nasihat-Nasihat
Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya kepada Pemerintah Hindia Belanda
1889–1936 Jilid IV.
Sebenarnya tidak apa-apa kok kalau suka
membeli baju baru saat lebaran. Apalagi memang Rasulullah mengajak kita untuk
memakai pakaian yang terbaik serta berhias untuk menyambut kemenangan hari raya
Idul Fitri. Namun mengingat kondisi ekonomi sekarang yang serba sulit dan tidak
pasti, maka tidak ada kewajiban bagi kita untuk selalu mengikuti tren dan
membeli baju lebaran setiap tahun.
#BajuLamaRasaBaru
Tahukah kamu? Sampah dari kain baru bisa
terurai setelah 6 bulan hingga 1 tahun lamanya. Bayangkan betapa banyaknya
sampah dari baju yang tidak terpakai setiap tahunnya. Merusak lingkungan dan
membuat ekosistem menjadi rusak. Di pinggiran sungai misalnya. Sampah dari kain
bisa menyangkut di aliran sungai dan mengakibatkan banjir. Bukan hanya itu
saja. Sampah tekstil yang tidak dipilah dengan baik bisa mengakibatkan
pencemaran air. Studi yang dilakukan Pusat Riset Oseanografi Institut Pertanian
Bogor (IPB) pada bulan Februari 2024 lalu, menemukan sebanyak 70 persen bagian
tengah Sungai Citarum tercemar mikro plastik, berupa serat benang polyester.
Tumpukan sampah tekstil di pembuangan akhir
sumber: Kompas.com
Untuk menjaga lingkungan, kita bisa mulai dari memilah sampah dengan benar. Pisahkan sampah Organik, sampah Anorganik dan Sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), Mendaur ulang pakaian kita yang tidak bisa lagi digunakan. Mengubah gaya hidup konsumtif dan hanya membeli pakaian seperlunya. Memberikan pakaian kita ke orang yang lebih membutuhkan dan kita bisa menambah umur pakaian kita dengan memakai ulang pakaian lama kita, daripada hanya memakai pakaian baru satu kali saja setiap tahun.
Kita bisa memanfaatkan baju lebaran lama kita
di lemari untuk menghemat pengeluaran dan juga tempat. Bayangkan jika kita
terus membeli baju baru padahal kita masih punya banyak sekali baju lebaran
lama yang masih sangat bagus. Pasti lemari kita penuh bukan? Lagipula rasanya
sayang sekali jika hanya memakai satu baju saja setiap lebaran dan langsung
dimasukkan ke lemari untuk disimpan. Tempat semakin sempit dan pengeluaran
semakin bengkak.
Supaya kita tidak merasa bosan memakai baju
lama dan terasa seperti baju baru, kita bisa menerapkan teknik Mix and
Match (Layering). Misalnya menambahkan vest atau blazer, memakai jilbab
yang warnanya berbeda dengan yang kita pakai di lebaran sebelumnya, dan jika
kita memakai tunik kita bisa mengganti bawahan kita dengan rok atau celana yang
jarang kita pakai. Kita juga bisa menambahkan berbagai aksesori untuk
mempercantik tampilan seperti bros, kalung, ikat pinggang, tas atau sepatu.
Jangan lupa untuk mencuci dan menyetrika bajumu. Tambahkan pewangi agar bajumu
terasa wangi dan kamu pun akan terlihat segar memakainya.
Perpaduan warna juga penting untuk membuat
kita terkesan elegan meskipun memakai baju lebaran lama. Gunakanlah teknik Color
Blocking atau Gaya Monokromatik untuk kesan
elegan.
Contoh paduan Color Blocking diantaranya:
1. Baby Blue + Putih : memberikan kesan suci,
bersih dan segar di hari raya.
2. Sage Green + Cream/ Beige : memberikan kesan tenang,
alami dan kekinian.
3. Mustard Yellow + Navy Blue : kombinasi klasik
yang berani. Kuning memberikan kesan energi sementara Navy Blue memberikan
kesan formal.
4. Lilac + Dusty Pink : Perpaduan feminin dan
modern yang memberikan kesan ceria namun tetap elegan.
Contoh Paduan Gaya Mix and Match sumber:
Radar Pekalongan
Sedangkan Gaya
monokromatik
adalah penggunaan satu warna dominan—atau gradasi warna yang
sama—untuk seluruh pakaian (atasan, bawahan, hingga aksesori) guna menciptakan
tampilan yang ramping, elegan, dan menawan. Misalnya paduan Biru Navy
dan Biru pastel. Paduan Merah- Merah Muda- Maroon atau nuansa netral seperti Cokelat
Muda- Krem- Cokelat Tua.
Pada akhirnya lebaran adalah
saat kita saling bermaaf-maafan dan bersilaturahmi dengan keluarga. Tidak ada
keharusan bagi kita untuk selalu membeli baju baru ketika lebaran tiba. Kalau
memiliki rezeki berlebih dan memang perlu sekali silakan membeli baju terbaru.
Namun jika masih ada baju lama yang masih bagus dan bisa dipadukan pakailah
baju lamamu. Untuk menambah kesan dan kenangan indah dari bajumu, mengurangi
limbah lingkungan, mengurangi timbunan di lemari, serta mendukung gaya hidup
yang berkelanjutan (Sustainable).


Comments
Post a Comment