Cara Bijak Kelola Sampah Hari Raya Idul Adha
Hari raya Idul Adha atau bisa juga disebut sebagai lebaran haji adalah hari raya umat Islam yang diperingati setiap tanggal 10 Dzulhijjah, bulan kedua belas dan terakhir dalam kalender Islam. Disebut juga sebagai lebaran haji karena perayaannya bertepatan dengan waktu pelaksanaan puncak ibadah haji di Tanah Suci Mekkah. Umat Islam dari seluruh penjuru dunia berkumpul di sana pada tanggal 9 hingga 13 Dzulhijjah untuk menunaikan rukun Islam kelima tersebut.
Selain melaksanakan ibadah haji, pada hari raya idul Adha dikenal satu ibadah lagi yang juga cukup utama. Apalagi jika bukan berkurban. Ibadah kurban sendiri berawal dari sejarah Nabi Ibrahim AS. Dimana nabi Ibrahim diperintahkan untuk mengkurbankan anak kesayangannya sendiri yakni Nabi Ismail AS.
Begitu tabah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail untuk menjalankan perintah Allah. Hingga akhirnya Allah mengganti Nabi Ismail dengan seekor kambing ketika pisau yang digunakan untuk mengkurbankan Nabi Ismail sampai ke lehernya. Peristiwa inilah yang mendasari ibadah kurban yang kita laksanakan hingga sekarang.
Nah buat momsis sekalian pernah merasa kesulitan atau tidak dalam mengelola sampah qurban? Mungkin sebagian besar dari Momsis sudah langsung mendapatkan daging kurban dari masjid setempat sehingga sampah qurban sendiri sudah dikelola oleh para panitia qurban. Tetapi ada hal-hal yang perlu Momsis ketahui agar kita bisa mengelola daging kurban yang kita peroleh dengan lebih bijak.
1. Pengelolaan Sampah Organik (Sisa Daging, Tulang, dan Jeroan)
Apabila daging kurban yang Momsis dapatkan ada sisa tulang atau jeroan yang sekiranya tidak akan digunakan, segera kubur dalam lubang tanah dengan kedalaman minimal 50 cm dan tutup rapat agar tidak menimbulkan bau busuk dan mengundang lalat. Kemudian apabila ada tulang-tulang kecil atau sisa sayuran saat memasak daging kita dapat olah kembali menjadi kompos atau difermentasi menjadi eco-enzyme untuk cairan pembersih serbaguna.
2. Gunakan wadah guna ulang.
Momsis bisa membawa wadah makanan sendiri dari rumah. Hindari kantong plastik sekali pakai (kresek) hitam yang mengandung bahan kimia untuk membungkus daging. Ganti dengan wadah yang bisa dicuci atau bawa wadah sendiri. Atau Momsis bisa mengusulkan kepada panitia qurban dekat rumah untuk menggunakan kemasan lain yang lebih ramah lingkungan seperti besek dari bambu., daun pisang dan sejenisnya.
3. Hindari mencuci daging berlebihan.
Praktik mencuci daging mentah sebenarnya memicu penyebaran bakteri ke wastafel dan area dapur. Sebaiknya momsis langsung rebus daging untuk menghilangkan bau atau segera simpan daging kurban yang telah dibersihkan ke dalam kulkas. Jangan lupa untuk memisahkan gajih dengan daging dan putuskan urat daging agar daging bisa empuk saat dimasak.
4. Masak secukupnya.
Momsis bisa mulai memikirkan porsi makanan sebelum mulai memasak daging. Kelola porsi masakan agar tidak mubazir. Sisa olahan makanan dapat diolah menjadi pakan ternak jika memungkinkan atau disimpan dengan benar di dalam kulkas untuk nantinya bisa dimakan kembali.
5. Setorkan ke Bank Sampah terdekat.
Apabila daging kurban dibagikan dalam kantong plastik maka ajaklah tetangga Momsis sekalian untuk mengumpulkan sampah plastik bekas kurban. Lalu serahkan ke Bank Sampah terdekat agar memiliki nilai ekonomis dan tidak menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Bijak dalam mengelola sampah artinya kita mengambil yang masih bisa digunakan, menghemat tempat dan ruang, serta memperhatikan dampak sampah yang kita buang ke lingkungan sekitar kita. Marilah kita sambut dan rayakan hari raya dengan penuh kekhidmatan namun tetap menjaga lingkungan.


Comments
Post a Comment