Refleksi Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Bumi Seperti Apa yang Akan Kita Wariskan?

 

    Banyak orang tua masa kini yang mulai mempersiapkan berbagai hal untuk anak cucunya kelak. Berbagai investasi mahal rela dianggarkan demi memberikan kenyamanan di masa depan. Hunian yang nyaman, pendidikan terbaik, hingga pengembangan minat dan bakat sering menjadi prioritas utama. Namun, ada satu investasi penting yang kerap luput dari perhatian kita, yakni ingkungan yang sehat. Lingkungan yang sehat adalah hal yang akan melekat dan berdampak besar bagi anak cucu kita kelak. Hal ini seharusnya menjadi refleksi bersama untuk memperingati hari Lingkungan Hidup tanggal 5 Juni ini.

    Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap tanggal 5 Juni seharusnya menjadi kesempatan bagi kita untuk merefleksikan kondisi bumi yang akan diwariskan kepada generasi mendatang. Udara yang bersih, air yang jernih dan berlimpah adalah hadiah besar yang dapat kita upayakan hari dan bersifat jangka panjang. Karena kita juga sudah merasakan dampak berbagai kerusakan lingkungan yang berpengaruh pada kualitas kesehatan kita saat ini.

    Di zaman orang tua kita dulu, musim kemarau dan musim hujan bisa diprediksi secara pasti. Tapi saat ini cuaca dan iklim sudah banyak berubah. Di musim kemarau hujan bisa tiba – tiba turun, dan di saat bulan penghujan kita dapat merasakan panas terik matahari bak musim kemarau. Ini semua bukan semata mata pekerjaan alam belaka, namun merupakan akibat dari kebiasaan-kebiasaan manusia yang mengabaikan berbagai dampak lingkungan yang ada. Rusaknya lapisan ozon, mencairnya es di Kutub Utara, semuanya terjadi karena dampak kegiatan manusia.

    Banyak juga kerusakan lingkungan yang merupakan konsekuensi dari aktivitas konsumsi manusia.  Budaya konsumsi berlebihan, termasuk tren fast fashion, berkontribusi terhadap meningkatnya polusi dan emisi gas rumah kaca. Di sisi lain, betonisasi yang masif mengurangi ruang hijau dan memperparah kenaikan suhu di berbagai wilayah. Dan hari ini kita telah merasakan berbagai dampak perbuatan kita sebagai manusia, lalu apa yang kelak akan anak anak kita rasakan?

    Anak kita akan menghirup udara yang kita hasilkan hari ini. Jika hari ini kita terus menghasilkan polusi, terus menebang pohon, maka udara seperti apa yang akan kita sisakan untuk anak kita kelak ? Data saat ini menunjukan bahwa polusi udara telah menjadi salah satu penyebab munculnya berbagai penyakit fatal pada anak seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), pneumonia, hingga asma. Mengutip data dari greenpeace berdasarkan laporan dari World Air Quality Report (2023), Indonesia menempati peringkat pertama yang memiliki kualitas udara terburuk di Asia Tenggara  pada tahun 2023. Polusi kendaraan, asap hasil buang pabrik, penggundulan hutan yang kita lakukan hari ini nyatanya berdampak langsung pada anak cucu kita sendiri.

   Hari Lingkungan Hidup Sedunia hadir untuk mengingatkan bahwa kesehatan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari kualitas hidup manusia. Cuaca yang semakin sulit diprediksi, suhu yang terus meningkat, serta semakin terbatasnya akses terhadap air bersih merupakan sinyal yang menunjukkan bahwa bumi sedang menghadapi tekanan yang serius. Karena itu, hari ini seharusnya menjadi momen refleksi bagi kita semua. Ada sebuah ungkapan yang patut direnungkan,

 “Kita tidak sedang mewarisi bumi dari leluhur, melainkan meminjamnya dari anak cucu kita”

    Lingkungan yang kita jaga hari ini adalah investasi kesehatan, kenyamanan, dan keselamatan bagi generasi mendatang. Kabar baiknya, perubahan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten berikut ini :

-         Mulai mengurangi budaya konsumsi berlebihan. Membeli barang sesuai kebutuhan dan mengurangi konsumsi fast fashion dapat membantu menekan jumlah limbah tekstil sekaligus mengurangi produksi barang sekali pakai.

 

-     Memilih moda transportasi yang lebih ramah lingkungan. Menggunakan transportasi umum atau bersepeda untuk perjalanan jarak dekat dapat membantu mengurangi polusi udara sekaligus meningkatkan kebugaran tubuh.

 

-  Membiasakan diri untuk mengurangi produksi sampah. Kebiasaan sederhana seperti membawa botol minum sendiri saat bepergian dapat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Mencegah sampah sejak awal jauh lebih mudah dibandingkan mengelolanya setelah menumpuk.

 

-       Mengenalkan anak pada alam sejak dini. Mengajak anak berkebun, merawat tanaman, atau sekadar bermain di ruang terbuka dapat menumbuhkan rasa cinta dan tanggung jawab terhadap lingkungan.


    Perubahan iklim bukan lagi ancaman yang hanya akan terjadi di masa depan. Dampaknya sudah kita rasakan hari ini melalui cuaca yang semakin tidak menentu, suhu yang terus meningkat, serta berbagai bencana lingkungan yang semakin sering terjadi. Namun di tengah berbagai tantangan tersebut, harapan masih tetap ada. Kita mungkin tidak mampu menyelesaikan seluruh persoalan lingkungan seorang diri. Setiap langkah kecil yang dilakukan hari ini adalah bentuk tanggung jawab kepada generasi yang akan datang. Sebab pada akhirnya warisan terbaik bukan hanya harta atau pencapaian, melainkan bumi yang tetap layak menjadi rumah bagi mereka. Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 mengingatkan kita bahwa kesempatan untuk memperbaiki keadaan masih terbuka.

Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia, semoga kita dapat menjadi manusia yang memiliki kesadaran untuk menjaga dan mewariskan bumi kita.

Referensi :

https://www.greenpeace.org/indonesia/cerita/58786/polusi-udara-ancaman-genting-tak-kasat-mata/

https://www.un.org/en/observances/environment-day


Penulis : Fadhilah Aunillah 

Editor : Inong Islamiyati

 

Comments

Popular posts from this blog

Strategi Hemat Pengeluaran Lewat Gaya Hidup Minimalis

Review Buku "My Minimalist Life Journey": Ragam Kisah di Balik Minimalisme yang Tak Melulu Soal Barang

Less Waste & Minimalism at Work bersama MUC Eco Movement