Apa Kata Penelitian tentang Hidup Minimalis dan Kesejahteraan Psikologis?

 Apa Kata Penelitian tentang Hidup Minimalis dan Kesejahteraan Psikologis?



Selama ini kita sering disuguhkan dengan narasi bahwa semakin banyak yang kita miliki, maka semakin bahagia pula hidup kita. Rumah yang penuh barang, koleksi yang terus bertambah, atau belanja sebagai bentuk self-reward sering kali dianggap sebagai simbol keberhasilan. Tanpa disadari, kita mulai mempercayai bahwa memiliki lebih banyak adalah jalan menuju kebahagiaan. Namun, benarkah demikian?

Sebuah penelitian yang terbit pada tahun 2024 justru menunjukkan sudut pandang yang berbeda. Penelitian tersebut menemukan bahwa gaya hidup minimalis memiliki hubungan positif dengan well-being atau kesejahteraan psikologis seseorang. Menariknya, pengaruh tersebut muncul karena minimalisme membantu seseorang merasakan sense of fulfilment, yaitu perasaan bahwa hidupnya lebih bermakna dan terasa cukup.

Penelitian ini melibatkan 482 responden dari generasi milenial berusia 18–40 tahun. Generasi milenial dipilih karena merupakan kelompok konsumen terbesar saat ini sekaligus generasi yang dinilai semakin peduli terhadap isu keberlanjutan dan lingkungan.

Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan hidup minimalis?

Minimalisme bukan berarti hidup serba kekurangan atau tidak boleh membeli barang. Minimalisme adalah tentang memilih dengan lebih sadar (mindfulness). Yakni dimana barang yang kita miliki adalah barang yang benar-benar dibutuhkan, memberikan manfaat, dan menambah nilai dalam hidup. Di sisi lain minimalisme juga mengajarkan kita untuk berani melepaskan barang-barang yang hanya memenuhi ruang tanpa benar-benar digunakan.

Dalam penelitian ini, peneliti menemukan lima faktor yang mendorong seseorang menjalani gaya hidup minimalis, mulai dari kesadaran terhadap lingkungan, keinginan hidup lebih sederhana, pengaruh lingkungan sosial, hingga ketertarikan pada estetika yang sederhana. Semua faktor tersebut terbukti berkontribusi terhadap keputusan seseorang untuk hidup lebih minimalis.

Namun hal yang menarik adalah temuan dampak dari penerapan gaya hidup minimalisme ini. Minimalisme tidak secara langsung membuat seseorang "lebih bahagia". Ada proses psikologis yang berjalan. Salah satu yang mengalami perubahan signifikan adalah peningkatan perasaan hidup yang lebih bermakna atau sering disebut sebagai sense of fulfilment. Ketika seseorang belajar untuk hidup lebih sederhana dan mindfulness, maka kehidupannya akan cenderung lebih terarah dan mudah menemukan rasa cukup. Perasaan tersebut kemudian berkontribusi pada meningkatnya kesejahteraan secara psikologis (well being).  Artinya, yang berubah bukan hanya isi rumah kita, tetapi juga cara kita memandang hidup.

Saat barang yang kita miliki semakin sedikit, ada hal lain yang justru bertambah. Waktu yang biasanya habis untuk membereskan rumah, mencari barang yang hilang, atau mengurus tumpukan benda yang jarang dipakai perlahan bisa dialihkan untuk hal-hal yang lebih bermakna. Kita memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga, menekuni hobi, membaca buku, atau sekadar menikmati waktu tanpa merasa terus dikejar oleh daftar pekerjaan rumah.

Memiliki lebih sedikit barang juga membuat kita lebih mudah menentukan prioritas. Pilihan yang lebih sederhana membantu mengurangi kelelahan dalam mengambil keputusan sehari-hari. Tidak heran jika banyak orang yang mulai menerapkan gaya hidup minimalis merasa pikirannya lebih tenang, fokus meningkat, dan tingkat stres berkurang.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa gaya hidup minimalis memberikan dampak positif bagi lingkungan. Membeli barang secukupnya berarti mengurangi limbah, kemasan, serta emisi karbon yang dihasilkan dari proses produksi dan distribusi. Bahkan, menyumbangkan barang yang sudah tidak digunakan lagi dapat memberikan kepuasan tersendiri karena kita tahu barang tersebut masih bermanfaat bagi orang lain, alih-alih berakhir menjadi sampah.

Temuan menarik lainnya adalah munculnya kesadaran untuk lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas. Banyak konsumen yang tidak lagi tertarik membeli banyak barang, tetapi lebih mempertimbangkan apakah sebuah barang benar-benar dibutuhkan, tahan lama, dan akan digunakan dalam jangka panjang. Temuan ini menjadi sinyal bahwa minimalisme bukan sekadar tren media sosial, melainkan mulai berkembang menjadi cara pandang baru dalam mengonsumsi sesuatu.

Kesimpulan studi ini menunukan adanya hubungan positif antara gaya hidup minimalis, rasa hidup yang lebih bermakna, dan meningkatnya kesejahteraan psikologis. Mungkin, kebahagiaan memang bukan datang karena kita memiliki semakin banyak. Bisa jadi, kebahagiaan justru hadir ketika kita mulai menyadari bahwa apa yang kita miliki saat ini sebenarnya sudah cukup.

 

Referensi : Jain VK, Gupta A, Verma H. Goodbye materialism: exploring antecedents of minimalism and its impact on millennials well-being. Environ Dev Sustain. 2023 Jun 8:1-27. doi: 10.1007/s10668-023-03437-0. Epub ahead of print. PMID: 37363025; PMCID: PMC10249935.


Comments

Popular posts from this blog

Strategi Hemat Pengeluaran Lewat Gaya Hidup Minimalis

Review Buku "My Minimalist Life Journey": Ragam Kisah di Balik Minimalisme yang Tak Melulu Soal Barang