Belajar Hidup Secukupnya Sejak Dini: Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Montessori, Reggio Emilia, dan Waldorf

 Belajar Hidup Secukupnya Sejak Dini: Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Montessori, Reggio Emilia, dan Waldorf



         Saat ini kita disuguhkan dengan berbagai pilihan pendekatan yang dapat kita gunakan dalam memberikan pendidikan kepada anak. Berbagai teori dan perspektif ahli dari luar negeri sering kali menjadi kiblat dalam arah pendidikan khususnya anak usia dini. Momsis mungkin sudah sering mendengar pendekatan Montessori, Reggio Emilia, dan Waldorf dan juga yang lainnya. Setiap metode memiliki fokus dan pendekatan yang berbeda dalam menyiapkan pendidikan untuk si kecil. Hal menarik dari berbagai pendekatan tersebut adalah bahwa mereka tidak hanya mengajak kita memahami perkembangan anak dengan baik, namun juga melatih anak untuk dapat merasa cukup bersikap bijak terhadap lingkungan.Namun sebelumnya mari kita membahas sejenak perbedaan utama fokus dalam masing-masing pendekatan. 

Montessori berfokus pada pembelajaran langsung dan pengalaman, serta mendorong anak-anak untuk mengeksplorasi dan menemukan minat mereka. Anak belajar dengan mengeksplorasi, berkolaborasi, dan mengekspresikan ide melalui berbagai pengalaman dan material yang bermakna. Pendekatan Reggio Emilia memandang lingkungan sebagai "guru ketiga" (the third teacher). Anak didorong untuk belajar melalui eksplorasi lingkungan, berdiskusi, bereksperimen, dan mendokumentasikan proses berpikirnya.  Sedangkan Waldrof berfokus pada pendekatan ini didasarkan pada gagasan bahwa pendidikan harus bersifat holistik dan perkembangan, dengan mempertimbangkan kebutuhan fisik, emosional, dan spiritual anak. Ketiganya memiliki perbedaan dari alat bahan dan metode pembelajaran harian yang diberikan kepada anak.

Namun ada hal yang menarik yakni ketiganya salah satunya adalah adanya kesamaan dalam konsep mengajari anak untuk merasa cukup dan tidak berlebihan. Tidak ada satu pun dari metode di atas yang merekomendasikan penggunaan banyak mainan. Bahkan di ruang kelas keberadaan barang diatur dan ditata serapih mungkin tanpa perlu banyak ‘printilan’ yang justru akan menimbulkan distraksi.

Dalam metode Montessori misalnya, di kelas hanya ada beberapa apparatus yang sudah diatur. Alat kerja atau alat bermainan di dalam Montessori yang disebut dengan apparatus hanya disediakan masing masing satu set di dalam satu kelas.  Misalnya pink tower dan knobbed cylinders hanya ada satu set di dalam kelas.  Apparatus tidak disediakan sama dengan jumlah anak. Hal ini bertujuan untuk melatih kemandirian, pengalaman sosial (seperti menunggu giliran), mengelola rasa bosan, dan menghargai keberadaan  barang di sekitar mereka. Kualitas pengalaman lebih diutamakan dibandingkan kuantitas benda yang ada di dalam kelas.

Jika Montessori memiliki apparatus sebagai sarana anak belajar dan bermain. Maka Regio Emilia fokus lebih fokus pada lingkungan sebagai objek penting dalam pembelajaran kepada anak. Tidak ada alat main khusus seperti apparatus, pendekatan regio emilia memanfaatkan berbagai eleman yang ada di sekitar anak sebagai bahan belajar dan pengamatan. Reggio Emilia memanfaatkan benda-benda sederhana atau loose parts yang ada di sekitar anak. Batu, daun, ranting, kardus, hingga tutup botol dapat menjadi media belajar yang menghasilkan berbagai imajinasi bermain untuk anak. Pendekatan ini mengajarkan bahwa kreativitas tidak bergantung pada banyaknya mainan atau mahalnya sebuah barang, melainkan pada kemampuan anak melihat berbagai kemungkinan dari benda-benda sederhana.

Sedangkan Waldrof cenderung banyak melibatkan kegiatan seni dan mendongeng dalam pembelajarannya. Dimana fokus utamanya adalah untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitas anak secara alami. Alat bermain digunakan seminimal mungkin. Anak tidak dikelilingi oleh mainan yang berlebihan atau gadget dan teknologi. Sebaliknya, mereka bermain dengan mainan berbahan alami yang sederhana dan terbuka (open-ended toys), sehingga satu benda dapat digunakan dalam berbagai cara sesuai imajinasi anak. Filosofi ini selaras dengan minimalisme, yaitu meyakini bahwa kesederhanaan justru memberi ruang bagi kreativitas, ketenangan, dan penghargaan terhadap setiap barang yang dimiliki.

Jika kita menilik ketiga pendekatan ini maka kita akan menemukan adanya kesamaan perspektif bahwa pada dasarnya merasa cukup dan memanfaatkan hal hal disekitar kita adalah salah satu pondasi penting dalam pendidikan karakter anak. Anak diajarkan merasa cukup dengan benda benda yang ada disekitarnya. Sumber daya yang tersedia di alam dan lingkungan sekitar juga dapat menjadi sumber belajar dan imajinasi baru buat anak. Anak diajak untuk dapat berpikir kreatif dalam berimajinasi dan juga merawat barang yang ada dengan penuh tanggung jawab.

Hal ini dapat menjadi salah satu pondasi utama yang menemani anak bertumbuh hingga ia dewasa dan mengajarkan poin bahwa :

a.       Kreativitas kita tidak didasarkan pada seberapa banyak barang yang kita miliki, namun seberapa cerdas kita menggunakan imajinasi untuk memanfaatkan benda yang ada di sekitar kita.

b.      Terkadang kita lupa untuk mindfulnesss dan bertanggung jawab pada benda yang kita miliki. Banyak orang dewasa yang fokus untuk mengumpulkan dan lupa untuk mengelolanya dengan baik.

c.       Social emphaty menjadi salah satu bentuk pertumbuhan kita sebagai individu. Belajar menunggu, mengantre, dan berbagi adalah hal esensial yang menjadi bagian hidup kita bermasyarakat. Seringkali banyak orang dewasa yang tidak aware karena memang tidak ditanamkan norma sosial tersebut sejak dini.

Meskipun memiliki filosofi dan praktik yang berbeda, Montessori, Reggio Emilia, dan Waldorf memiliki benang merah yang sama, yaitu mengajarkan anak untuk menghargai apa yang dimiliki dan memanfaatkan sumber daya di sekitarnya secara bijaksana. Di era ketika anak mudah dibanjiri mainan, gadget, dan berbagai stimulasi instan, ketiga pendekatan ini mengingatkan bahwa perkembangan anak tidak bergantung pada banyaknya barang yang dimiliki. Anak justru membutuhkan ruang untuk bereksplorasi, berimajinasi, dan membangun hubungan yang bermakna dengan benda-benda yang ada di sekitarnya. Kesederhanaan bukan berarti kekurangan, melainkan kesempatan untuk bertumbuh secara lebih mendalam. Mari kita tanamkan nilai "merasa cukup" sejak dini agar anak tumbuh dengan karakter yang tidak mudah tergoda oleh budaya konsumtif, tetapi mampu menemukan kebahagiaan dari hal-hal sederhana. 

 Referensi : : https://www.cadence-education.com/blog/family-resources/montessori-vs-waldorf-education/https://sunshineteacherstraining.id/id/material-montessori/


Penulis : Fadhilah Aunillah 
Editor : Evi Syahidah 

Comments

Popular posts from this blog

Strategi Hemat Pengeluaran Lewat Gaya Hidup Minimalis

Review Buku "My Minimalist Life Journey": Ragam Kisah di Balik Minimalisme yang Tak Melulu Soal Barang