Dari Fast Fashion Menuju Conscious Fashion, Saatnya Lebih Bijak Memilih Pakaian

 



 

Di era globalisasi ini kita melihat bahwa berbagai hal berjalan dengan sangat cepat. Tidak jarang kita menemukan istilah dengan menggunakan kata fast, seperti fast food, fast living, fast fashion, dll. Kata fast ini menunjukan sebuah tren menarik pada perubahan budaya konsumsi masyarakat dunia di masa kini. Kemajuan teknologi, meluasnya kapitalisme, dan persaingan global yang massif menuntut pergerakan dan budaya konsumsi masyarakat menjadi serba cepat. Di balik itu semua pernahkah kita berfikir dampak apa yang terjadi dari tuntutan zaman yang serba cepat ini ?

Fast fashion adalah salah satu hal yang sangat dekat dengan kita saat ini. Fast fashion merupakan sistem produksi dan pemasaran pakaian yang dirancang untuk menghadirkan tren mode terbaru ke pasar dengan cepat dan harga yang terjangkau, sehingga mendorong konsumsi pakaian yang tinggi dan pergantian tren yang semakin singkat. Bisa kita lihat bahwa dalam satu tahun bisa bermunculan berbagai trend fashion yang terus berganti. Hal ini juga didukung dengan berkembangnya media sosial dan online market place. Setiap menuju hari raya idul fitri misalnya, tren pakaian selalu berubah. Tidak jarang influencer juga menjadi kiblat contoh fashion dari berbagai kalangan.

Pakaian yang memiliki fungsi utama untuk menutup aurat, melindungi tubuh dan marwah diri mulai bergeser menjadi fungsi yang non esensial. Banyak masyarakat yang terpengaruh iklan dan budaya baru yang ternyata berdampak besar pada lingkungan hidup dan budaya konsumtif masyarakat.

UN Environtmen Program menunjukan hasil laporan yang disusun melalui penelitian dan konsultasi dengan lebih dari 140 pemangku kepentingan. Industri tekstil saat ini memberikan kontribusi besar terhadap perubahan iklim, kerusakan alam, pencemaran lingkungan, serta berbagai masalah sosial seperti eksploitasi tenaga kerja, upah yang rendah, risiko kesehatan, dan ketimpangan gender. Perempuan sendiri merupakan bagian terbesar dari tenaga kerja di sektor ini.Di satu sisi perempuan menjadi market utama dalam industry fashion, namun di sisi lain ternyata perempuan juga adalah korban dari eksploitasi tenaga kerja dalam industri tekstil. Banyak resiko pekerjaan yang muncul seperti maraknya eksploitasi, upah yang tidak layak, resiko kesehatan akibat paparan bahan tekstik yang berbahaya dan berbagai resiko lainnya.

Dari segi dampak lingkungan ditemukan fakta bahwa sektor tekstil menyumbang sekitar 2–8% dari total emisi gas rumah kaca global. Industri ini juga menggunakan sumber daya air tawar dalam jumlah yang sangat besar, setara dengan 86 juta kolam renang Olimpiade, serta bertanggung jawab atas sekitar 9% pencemaran mikroplastik di lautan. Hal ini baru dampak dari hulu industri. Dampak lainnya adalah munculnya berbagai limbah tekstil bekas pakai yang merupakan salah satu jenis sampah yang sulit diolah.

Lantas apa yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat dunia untuk tidak memperparah dampak dari munculnya industry fast fashion ini ?

 

 

1.      Memilih pakaian yang  berkualitas, tahan lama, dan ramah lingkungan.

Industri fast fashion seringkali menggunakan kualitas bahan yang buruk untuk menekan biaya produksi. Bahan seperti polyester dan nilon adalah jenis bahan yang kurang direkomendasikan karena selain kurang nyaman untuk digunakan, bahan bahan ini juga dapat menghasilkan limbah mikroplastik yang berbahaya.

Bahan seperti katun organik, linen, dan tencel adalah bahan yang lebih ramah lingkungan dan terasa lebih nyaman saat digunakan karena lebih dingin dan dapat menyerap keringat dengan baik. 

2.      Memperpanjang masa guna pakaian dan melakukan reuse

Menjahit sedikit baju yang berlubang, memodifikasi, atau memadupadankan satu pakaian dengan pakaian yang lain merupakan hal sederhana yang dapat kita lakukan dari rumah. Dengan melakukan hal ini kita dapat meminimalisir budaya konsumtif dan bertanggung jawab secara penuh terhadap pakaian yang kita gunakan. Selain itu reuse pakaian dengan konsep hibah – adopsi seperti yang dilakukan di Pasar Tukar dari MMID merupakan salah satu konsep menarik untuk memperpanjang masa guna pakain. Pakaian layak pakai yang kita miliki dapat menjadi barang baru bagi orang lain, begitupun sebaliknya.

3.      Mencoba mengadaptasi capsule wardrobe.

Capsule wardrobe adalah konsep fashion minimalis dimana kita memanfaatkan koleksi pakaian yang terbatas, serbaguna, dan mudah dipadupadankan.  Konsep ini tidak hanya membantu mengurangi tumpukan pakaian di lemari, tetapi juga memudahkan proses memilih pakaian sehari-hari sehingga mengurangi kelelahan dalam mengambil keputusan (decision fatigue). Dengan konsep ini seseorang akan didorong untuk lebih sadar dalam memiliki dan menggunakan pakaian, mengutamakan kualitas dibandingkan kuantitas, dan dapat memasimalkan penggunaan pakaian dalam kehidupan sehari hari. Poin lainnya adalah melalui penggunaan capsule wardrobe yang tepat kita dapat mengurangi menghasilkan limbah tekstil.

Di tengah budaya fast fashion yang serba cepat, mungkin sudah saatnya kita mulai beralih menuju conscious fashion, yaitu cara berpakaian yang lebih sadar, bertanggung jawab, dan berkelanjutan. Hal hal besar terkadang dimulai dari hal hal kecil yang bis akita mulai dari rumah. Karena pada akhirnya, fashion yang baik bukan hanya tentang mengikuti tren terbaru, melainkan tentang bagaimana pakaian yang kita kenakan dapat memberi manfaat bagi diri sendiri, sesama, dan lingkungan.

Saat ini MMID sedang menjalankan proyek Rumah Minim Sampah Tekstil, sebuah proyek dengan konsep community based behavioural change tentang perempuan dan konsumsi & pengelolaan pakaian yang berkesadaran. Jika Momsia tertarik berkolaborasi di dalamnya silakan DM @minimalistmoms.id (insert link IG MMID) atau hubungi WA 085719519415.

Referensi : https://www.unep.org/resources/publication/sustainability-and-circularity-textile-value-chain-global-roadmap


Penulis : Fadhilah Aunillah 

Editor : Evi Syahidah 


Comments

Popular posts from this blog

Strategi Hemat Pengeluaran Lewat Gaya Hidup Minimalis

Review Buku "My Minimalist Life Journey": Ragam Kisah di Balik Minimalisme yang Tak Melulu Soal Barang