Strategi Minim Sampah Plastik dari Rumah untuk Dunia

 


Plastik adalah benda yang kerap kita pakai sehari-hari. Momsis sadar tidak bahwa plastik sudah menjadi salah satu bagian paling dekat dari hidup kita. Yang paling sederhana sadarkah momsis bahwa ponsel atau laptop yang momsis gunakan sekarang untuk membaca tulisan ini mengandung bahan plastik? Laptop dan ponsel sangat banyak menggunakan plastik. Material ini digunakan pada berbagai komponen inti, mulai dari lapisan luar hingga bagian dalam perangkat, karena sifatnya yang ringan, fleksibel, dan murah. Mulai dari casing, bingkai layar, hingga komponen dalam yakni bagian pelindung dan jalur sirkuit di dalam laptop mengandalkan plastik seperti Polikarbonat (PC) dan ABS.


Plastik adalah zat yang sangat mudah untuk dibentuk. Banyak sekali benda yang terbuat dari bahan plastik. Mulai dari tempat makan, botol minum, piring, gelas, sendok, mainan anak, ember, gayung, tempat sampah, lemari dan lain-lain. Plastik sebagian besar terbuat dari bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan gas alam yang diproses melalui industri petrokimia. Minyak mentah di kilang minyak diproses menjadi naphtha, yang kemudian dipecah melalui proses cracking dan polymerization menjadi polimer sintetis (resin/biji plastik). Plastik pertama kali diciptakan oleh Alexander Parkes pada tahun 1862 (Parkesine), namun plastik sintetis pertama yang benar-benar buatan manusia (bakelite) ditemukan oleh Leo Baekeland pada tahun 1907.


Namun tidak ada benda di dunia yang sangat sempurna. Meskipun plastik membuat hidup manusia menjadi lebih mudah, plastik juga menimbulkan efek serius bagi dunia terutama dalam hal sampah. Sudah bukan hal asing lagi bahwa sampah jenis plastik adalah salah satu jenis sampah yang sangat sulit diurai oleh tanah. Contohnya kantong plastik membutuhkan 10 tahun di alam untuk bisa terurai. Botol plastik membutuhkan waktu 400 tahun. Ini menunjukkan secara langsung bahwa semakin banyak kita membuang sampah plastik, semakin kita menyusahkan bumi. Sampah plastik bisa mencemari air di sungai dan di laut sehingga ikan yang kita makan mengandung zat Mikroplastik yang berbahaya bagi tubuh.


Hari Tanpa Kantong Plastik Sedunia (International Plastic Bag Free Day) diperingati setiap tanggal 3 Juli. Gerakan global ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya lingkungan akibat penggunaan kantong plastik sekali pakai dan mempromosikan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Peringatan ini pertama kali digagas oleh Zero Waste Europe pada tahun 2008 melalui jaringan Break Free From Plastic. Kampanye ini bukan berarti melarang penggunaan plastik secara total, melainkan mendorong perubahan perilaku masyarakat untuk menghentikan ketergantungan pada kantong plastik sekali pakai yang membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai dan sering mencemari lautan.




Kantong plastik adalah salah satu jenis plastik yang sering momsis terima setiap kali berbelanja terutama di pasar tradisional. Bahkan pasar tradisional ternyata adalah salah satu penyumbang sampah plastik terbesar di Indonesia karena sifatnya yang murah, tahan air dan praktis. Namun ada beberapa cara yang bisa momsis lakukan untuk mengurangi sampah plastik. Misalnya :


1. Membawa tas belanja dari rumah.

Di minimarket seperti Indomaret dan Alfamart sudah tidak menyediakan kantong plastik dan mewajibkan para customer membawa tote bag sendiri dari rumah atau membeli tote bag yang tersedia di minimarket. Momsis juga bisa menerapkan hal tersebut ketika berbelanja di pasar tradisional. Misalnya membawa tas kain dan tas rotan setiap hendak berbelanja adalah upaya paling ringan yang bisa kita lakukan untuk mengurangi sampah plastik.


2. Membawa wadah penyimpan makanan ketika hendak berbelanja ikan atau daging. 

Ikan dan daging memang berbau tajam. Setiap hendak membeli daging atau ikan, biasanya pasti dibungkus dengan kantong plastik. Namun momsis bisa mengubah hal tersebut dengan cara membawa wadah makanan tertutup dari rumah sebelum belanja. Kita bisa sekalian minta pedagang untuk membersihkan ikan atau daging sebelum kita bawa pulang ke rumah. Lebih bersih dan juga minim sampah.


3. Membiasakan diri menggunakan kantong plastik bekas yang tersedia selama masih layak pakai.

Jika memang sampah kantong plastik terlanjur menumpuk di rumah, momsis bisa menyimpannya untuk digunakan lain waktu. Lipat kantong plastik hingga kecil sehingga muat diselipkan di tas atau di dompet kita. Momsis bisa menggunakan kantong plastik bekas untuk membuang sampah, atau belanja sayur dan buah tanpa perlu meminta kantong plastik baru dari pedagang selama kantong plastik tersebut masih belum rusak. 


4. Membawa tumbler dan wadah makanan ketika hendak bepergian.

Saat ini membawa Tumbler ketika pergi keluar bukanlah hal yang aneh. Perusahaan tempat minum dan tempat makan berlomba dan berinovasi merancang desain tempat makan dan tempat minum yang estetik, mudah dibawa dan praktis disimpan. Hal ini menjadi upaya kita untuk mengurangi sampah. Karena setiap perubahan kecil harus dimulai dari diri kita sendiri.


Prinsip hidup minimalis adalah mengurangi barang, pengeluaran, atau komitmen yang tidak perlu untuk lebih fokus pada hal yang benar-benar bermakna, seperti kesehatan, relasi, dan ketenangan pikiran. Ini bukan tentang hidup serba kekurangan, melainkan tentang arti “cukup” dan memprioritaskan kualitas diatas kuantitas. Yuk kita mulai hidup minimalis plastik demi kelangsungan bumi kita. Mulai kebiasaan baik kecil dari rumah, diri sendiri dan untuk dunia.










Comments

Popular posts from this blog

Strategi Hemat Pengeluaran Lewat Gaya Hidup Minimalis

Review Buku "My Minimalist Life Journey": Ragam Kisah di Balik Minimalisme yang Tak Melulu Soal Barang