Minimalist Parenting: Bukan Memberi Lebih Banyak, tapi Memberi yang Bermakna

 


Parents sadar ga sih? Hari ini kita hidup beriringan dengan banyak sekali check list  yang kita berikan untuk anak, atau mungkin diri kita sendiri sebagai orang tua. Kita kerap kali merasa cinta yang kita miliki untuk anak dapat dihadirkan melalui banyaknya mainan, padatnya aktivitas, atau panjangnya daftar pencapaian yang ingin kita berikan terhadap anak. Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan semua itu. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk merefleksikan, apakah semua yang kita anggap baik dan kita berikan kepada anak benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka? Atau justru menambah beban stimulasi dan mereduksi quality time yang harusnya bisa kita nikmati bersama anak?

Kehadiran media sosial juga kerap kali menjadi ajang perbandingan diri kita dengan orang lain. Beragam teori, metode, dan konten dari para parenting influencer terkadang justru membuat kita semakin bingung: sebenarnya, pola asuh seperti apa yang harus kita terapkan di rumah?

Jawabannya mungkin akan berbeda pada setiap keluarga dan kembali lagi kepada visi misi dan kondisi keluarga itu sendiri. Namun yang terpenting kita perlu memahami bahwa hal-hal esensial mengenai tumbuh kembang si kecil adalah hal utama yang perlu kita perhatikan. Namun, yang paling penting adalah memahami bahwa hal-hal yang esensial bagi tumbuh kembang anak tetap menjadi prioritas utama. Kita tidak perlu mengikuti semuanya, cukup memilih apa yang memang relevan dan bermakna bagi anak dan keluarga kita.

Mari berkenalan dengan minimalist parenting. Jika biasanya kata minimalis dipadankan dengan hal-hal yang bersifat material kebendaan, kali ini kita akan melihat minimalis sebagai bagian dari pendampingan dan pengasuhan kepada buah hati kita.

Konsep minimalist parenting salah satunya dibahas dalam buku Minimalist Parenting: Enjoy Modern Family Life More by Doing Less karya Christine Koh dan Asha Dornfest. 

Minimalist parenting berfokus pada upaya sadar dari orang tua untuk mengurangi segala sesuatu yang berlebihan dan memprioritaskan pada hal-hal yang benar benar penting. Hal ini bertujuan untuk menciptakan hubungan yang sehat, kematangan emosional, serta pengalaman yang nyata dan bermakna pada anak. 

Dalam konsep ini peran orang tua dalam mendampingi anak pun tidak luput dari bagian minimalist parenting, karena orang tua yang overwhelmed akan membawa dampak besar bagi hubungan antar anak dan orang tua itu sendiri. Oleh karena itu arti minimalis tidak hanya berfokus pada apa yang kemudian kita berikan kepada anak, namun juga menjadikan orang tua less-stress dan lebih mindfulness dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Berikut beberapa hal dalam minimalis parenting yang bisa kita terapkan di dalam rumah.

1.  Decluttering dan ciptakan ruang sederhana untuk anak.

Orang tua kerap kali menunjukan rasa cintanya dengan membelikan berbagai jenis mainan pada anak. Namun di sisi lain kehadiran banyak barang terutama banyak mainan justru dapat meningkatkan rasa stress para anak dan orang tua itu sendiri.

Menciptakan ruang yang sederhana dan bebas dari tumpukan barang merupakan hal mendasar dalam minimalis parenting. Sedikit mainan yang ditata dengan rapih dan disesuaikan dengan kebutuhan si kecil dapat menciptakan rasa nyaman dan keluasaan dalam bergerak. Anak juga akan belajar menangani rasa bosan, belajar bereksplorasi, dan meningkatkan imajinasinya.

 

2.  Menyederhanakan rutinitas dan membuat prioritas.

 

Pola asuh minimalis mengutamakan rutinitas yang sederhana, mudah dijalankan, serta cukup fleksibel untuk disesuaikan dengan kebutuhan anak yang terus berkembang. Anak tidak harus dijejali dengan berbagai aktivitas dari pagi hingga petang. Anak butuh waktu bermain, belajar, mengenal aktivitas di dalam rumah dan juga istirahat.

 

Membuat prioritas sederhana sesuai tumbuh kembangnya salah satunya adalah jadwal tidur menjadi hal penting. Istirahat menjadi salah satu elemen penting yang harus masuk ke dalam schedule, karena tidak hanya penting bagi anak namun juga untuk orang tuanya. Penelitian menunjukan bahwa kecemasan pada anak merupakan hal yang semakin marak terjadi pada generasi saat ini. Anak yang tumbuh dengan kecemasan memiliki resiko jauh lebih tinggi memiliki masalah mental saat dewasa kelak.  Menjaga rutinitas agar tetap konsisten dan fleksibel sesuai kebutuhan dapat membantu anak dan orang tua untuk meningkatkan kualitas relasi di dalam rumah.

 

3.  Memberikan waktu untuk anak bereksplorasi

Orang tua kadang memiliki target ketika mendampingi anak bermain. Daripada terus mengarahkan anak dan membuat anak memenuhi ekspektasi kita, sesekali berikan mereka kebebasan untuk memilih sendiri apa yang ingin dimainkan. Biarkan mereka mengikuti rasa ingin tahu dan minatnya.

Orang tua juga dapat menyediakan open ended toys seperti balok, kain, kardus, atau bahan-bahan dari alam. Pilihan mainan yang lebih sedikit namun bersifat open ended dapat membuat anak lebih fokus mengeksplorasi, berimajinasi, dan berkreasi. Kita tetap bisa hadir untuk mengawasi dan mendukung, tetapi tidak perlu terus-menerus mengarahkan atau ikut campur dalam permainan mereka. Cukup amati, ikuti minatnya, dan biarkan anak menemukan caranya sendiri. Kadang, anak hanya perlu ruang dan waktu untuk bermain sesuka hati.

Tiga poin di atas hanyalah beberapa contoh dari hal-hal yang ditekankan dalam minimalist parenting. Pada akhirnya, minimalisme dalam pengasuhan bukan tentang memberikan lebih sedikit kepada anak, tetapi tentang memilih apa yang benar-benar mereka butuhkan. Karena dalam parenting, less is more dan kualitas sering kali jauh lebih berarti daripada kuantitas.

Yuk, mulai dari hal kecil. Coba lihat kembali apa yang ada di sekitar anak hari ini seperto mainan, aktivitas, rutinitas, maupun stimulasi yang mereka dapatkan. Pilih mana yang benar-benar memberikan nilai, dan lepaskan yang sekadar membuat penuh. Karena menjadi orang tua minimalis bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang belajar memilih dengan lebih sadar.

Momsis juga bisa meminjam buku mengenai Minimalist Parenting di MM Book Rental dengan klik link di bawah ini bit.ly/sewabukuMM 

Referensi :

https://www.careforkids.com.au/newsletter/2018/may/23/minimalist-parenting.html

https://www.dspace.bibliotecasdelecuador.com/manual/Minimalist%20Parenting%20From%20Baby%20To%20Toddler%20A%20Pract 

https://instituteofchildpsychology.com/less-is-really-more-how-to-parent-like-a-minimalist/?srsltid=AfmBOoo_pG9t__DJID-vi2IcMejuNaBw3BsmvlVimZ4XYLT4cOcQy8Z3

 

Penulis : Fadhilah Dwi Puteri Aunillah 

Editor : Evi Syahida 

 


Comments

Popular posts from this blog

Strategi Hemat Pengeluaran Lewat Gaya Hidup Minimalis

Review Buku "My Minimalist Life Journey": Ragam Kisah di Balik Minimalisme yang Tak Melulu Soal Barang