Jejak Lingkungan di Balik Kecanggihan AI
Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan kini menjadi bagian dari kehidupan kita sehari hari. Kemanapun kita pergi jejak karya AI akan bisa kita temukan di sepanjang jalan. Sudah banyak poster dan berbagai iklan yang merupakan hasil generate AI. AI menjadi alat bantu bagi banyak orang dan banyak profesi. Kemudahan dan kecanggihan yang ditawarkan oleh AI menjadikannya mudah diakses oleh siapa saja. Kecanggihan kecerdasan buatan yang dulu hanya kita bisa saksikan di berbagai film-film fiksi kini menjadi nyata dan menemani kehidupan di setiap harinya.
Tidak jarang kecanggihan AI ini juga digunakan untuk berbagai hal iseng dan tren belaka. Beberapa minggu ke belakang kita menyaksikan banyak orang yang mengikuti tren foto tahun 1980an. Di mana foto asli kita kemudian di ubah menjadi foto ala generasi 80an lengkap dengan tren fashion dan model foto vintage. Di bulan sebelumnya ada tren mengubah foto menjadi model action figure 4D dan sebagainya.
Di setiap periode waktu tertentu muncul berbagai tren iseng memanfaatkan kecanggihan AI ini. Padahal, jika kita telisik lebih jauh, tren-tren tersebut pada dasarnya hanya bersifat hiburan atau keisengan sesaat dan tidak memiliki urgensi maupun manfaat yang besar. Penggunaan AI untuk hal-hal semacam ini tentu bukan sesuatu yang salah, tetapi kita juga perlu menyadari bahwa setiap penggunaan teknologi tetap membutuhkan sumber daya di baliknya.
Banyak yang belum menyadari bahwa AI tidak bekerja di ruang hampa. AI membutuhkan banyak sekali energi untuk dapat memahami, mengolah, memproses berbagai perintah yang kita berikan. Proses tersebut membutuhkan komputasi yang dilakukan oleh komputer dalam pusat data (data center). Pusat data berisi banyak server yang bekerja untuk memproses dan menyimpan informasi.
Semakin kompleks model AI dan semakin banyak orang yang menggunakannya maka semakin besar pula kebutuhan terhadap komputasi. Artinya dibutuhkan energi untuk menjalankan berbagai perangkat tersebut.
Di tengah penggunaan AI yang semakin luas ternyata ada sumber daya yang ikut bekerja di baliknya. Penggunaan sumber daya ini jika tidak disikapi dengan bijak justru akan menjadi boomerang bagi kita sebagai pengguna AI sekaligus makhluk yang memanfaatkan berbagai energi di bumi.
AI dan dampaknya untuk lingkungan.
1. Kebutuhan energi listrik yang sangat besar.
Pada tahun 2023, pusat data (data center) mengonsumsi sekitar 4,4% listrik di Amerika Serikat. Angka ini bahkan diperkirakan bisa meningkat hingga tiga kali lipat pada tahun 2028. Di tengah penggunaan AI yang semakin luas ternyata ada sumber daya yang ikut bekerja di baliknya, mulai dari listrik dan air hingga perangkat keras yang digunakan untuk menjalankan teknologi tersebut.
Kebutuhan energi ini diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan perkembangan AI. Bahkan, ada perkiraan bahwa pada tahun 2030–2035, pusat data dapat menyumbang hingga 20% dari konsumsi listrik global. Jika penggunaan energi terus meningkat, hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi ketersediaan dan pengelolaan energi di masa depan.
2. Polusi dan emisi gas rumah kaca
Seiring dengan meningkatnya aktivitas komputasi AI, penggunaan bahan bakar fosil di pembangkit listrik juga ikut meningkat. Proses ini melepaskan partikel polutan berbahaya seperti PM2.5 dan sulfur dioksida ke atmosfer, yang secara langsung memperburuk kualitas udara di wilayah sekitarnya.
Selain itu, untuk memastikan server AI tetap beroperasi dan tidak mati ketika terjadi pemadaman listrik, setiap pusat data dilengkapi dengan ratusan generator diesel berukuran besar sebagai sumber listrik cadangan. Perngoperasian generator-generator tersebut secara terus-menerus melepaskan emisi gas beracun langsung ke lingkungan sekitar, menciptakan polusi udara yang dapat mengancam kesehatan pernapasan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
AI membutuhkan energi dalam jumlah besar, sementara sebagian energi yang digunakan untuk menjalankan pusat data masih berasal dari bahan bakar fosil. Artinya, semakin besar kebutuhan energi tanpa diimbangi dengan penggunaan sumber energi yang lebih bersih, semakin besar pula potensi emisi yang dihasilkan.
3. Penggunaan air yang sangat besar
Mengapa AI membutuhkan air? Jawabannya adalah untuk mengurangi panas ekstrem yang dihasilkan oleh proses komputasi algoritmik yang kompleks. Untuk mendinginkannya, pusat data mengandalkan sistem penguapan air dalam jumlah besar.
Namun, mesin-mesin yang sensitif ini tidak bisa menggunakan sembarang air. Menurut laporan global dari Water Unite, infrastruktur AI membutuhkan air tawar yang benar-benar murni dan bersih. Penggunaan air yang mengandung banyak mineral atau kontaminan dapat menyebabkan pipa-pipa pendingin mengalami korosi dan menyumbat sistem sirkulasi.
Di sinilah persaingan dalam penggunaan sumber daya mulai muncul. Air murni berkualitas tinggi yang seharusnya mengalir melalui pipa-pipa rumah tangga untuk dikonsumsi manusia, digunakan petani untuk mengairi sawah, atau menjaga ekosistem tetap hidup, kini harus dialihkan untuk mendinginkan mesin otomatis yang bekerja untuk AI.
Sumber : https://gaw-bariri.bmkg.go.id/
4. Munculnya limbah elektronik (e-waste)
AI membutuhkan berbagai perangkat keras seperti GPU, server, dan komponen high-performance computing (HPC). Perangkat-perangkat tersebut memiliki masa penggunaan tertentu. Ketika sudah tidak lagi digunakan, mengalami kerusakan, atau digantikan dengan teknologi yang lebih baru, perangkat tersebut pada akhirnya dapat menjadi limbah elektronik.
Padahal, proses pembuatan perangkat keras tersebut juga membutuhkan berbagai bahan baku dan mineral. Proses pencarian dan pengolahan berbagai bahan baku tersebut membutuhkan proses yang sangat panjang dan tidak sederhana, dan pastinya berdampak besar juga bagi lingkungan sekitar.
Sebagai manusia yang hidup di bumi sudah seharusnya kita mulai menyadari bahwa setiap hal yang kita lakukan dampaknya akan kembali ke lingkungan dan bumi kita sendiri. Pengetahuan mengenai dampak AI bagi lingkungan seharusnya cukup untuk menjadikan kita berlaku bijak dalam meggunakan AI. Tidak FOMO terhadap berbagai tren penggunaan AI adalah sebuah langkah bijak untuk tidak menambah kerusakan dan krisis lingkungan di bumi ini. Bukan berarti kita harus berhenti menggunakan AI. Kita bisa mulai dengan bertanya:
“Apakah saya benar-benar membutuhkan AI untuk hal ini?”
Jika jawabannya iya maka bijaklah dalam menggunakannya. Namun jika tidak, kita dapat menggunakan berbagai alternatif lain termasuk menggunakan metode aktif otak kita untuk berpikir lebih mendalam.
Teknologi yang digunakan secara bijak tidak harus dihindari. Justru, kita perlu belajar menjadi pengguna teknologi yang sadar terhadap manfaat sekaligus konsekuensinya terutama terhadap lingkungan.
Penulis : Fadhilah Aunillah
Referensi :
Kandemir, M. (2025, April 8). Why AI uses so much energy and what we can do about it. Institute for Energy and the Environment, Penn State. Last updated June 26, 2026. https://iee.psu.edu/news/blog/why-ai-uses-so-much-energy-and-what-we-can-do-about-it
Suwandi, M. Hafizh (2026, July 14). Counting the Price of an Answer: When AI Intelligence Comes at the Price of Clean Water and Fresh Air. https://gaw-bariri.bmkg.go.id/publikasi/artikel/467-menghitung-harga-sebuah-jawaban-saat-kecerdasan-ai-harus-dibayar-dengan-air-bersih-dan-udara-segar
Comments
Post a Comment