Decluttering Baju Anak, Yuk!

  

Kontributor: Dian Ismyama

 

Decluttering bukan (sekadar) mengeluarkan barang agar ruang lebih lapang, tetapi rasa bahagia karena barang yang sudah tidak dibutuhkan bisa terus berjalan manfaatnya, syukur-syukur pahalanya juga.” -Visya, founder minimalistmoms.id


Kalimat di atas sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Fumio Sasaki dalam bukunya “Goodbye, Things: The New Japanese Minimalism”. Menurut Fumio Sasaki, hidup minimalis termasuk decluttering tidak hanya memberikan manfaat umum seperti kenyamanan ruangan (lebih rapi), atau lebih mudah untuk dibersihkan, tetapi juga membawa perubahan yang mendasar. Perubahan yang dimaksud adalah adanya kesempatan untuk berpikir tentang arti bahagia.

Selain itu, hidup minimalis membuat Moms mengurangi membandingkan diri dengan orang lain yang memiliki barang bagus, atau mempunyai lebih banyak barang. Moms tidak lagi akan menghitung berapa harga tas atau baju seseorang.

Nilai seseorang bukan dari jumlah harta yang dimiliki. Harta benda memang dapat membuat bahagia, tetapi hanya untuk sementara. Bahkan sesungguhnya, objek material justru menyedot energi, waktu dan kebebasan Moms.


Apa Itu Decluttering?

Bagi yang belum tahu, decluttering berasal dari kata clutter yang berarti semua barang yang disimpan di dalam atau di sekitar rumah, yang tidak menambah nilai atau memberikan manfaat dalam hidup.

Dengan kata lain, decluttering adalah usaha untuk menyingkirkan barang-barang yang tidak terpakai di rumah. Menyingkirkan bukan berarti membuang seluruh barang yang berantakan, tetapi menyortir dan memilah barang agar rumah tampak lebih rapi serta teratur.

Decluttering barang atau mengeluarkan barang yang tidak lagi terpakai menjadikan Moms memiliki lebih sedikit barang di sekitar. Dengan demikian, keterikatan terhadap benda-benda materi akan jauh berkurang. Dampaknya adalah Moms akan menemukan kesenangan sejati dalam hidup.

Sebagai informasi, decluttering sempat dipopulerkan oleh Marie Kondo dalam bukunya “The Lifechanging Magic of Tidying Up”. Marie Kondo mendefinisikan decluttering sebagai aktivitas menyingkirkan barang-barang yang tidak memercikkan kebahagiaan bagi pemiliknya.

Jadi, apakah Moms sudah siap untuk mengucapkan selamat tinggal pada baju anak? Alih-alih hanya merapikannya.


Decluttering Baju Anak, Mengapa dan Bagaimana Caranya?

“Kebahagiaan bukanlah memiliki apa yang Anda inginkan, tetapi menginginkan apa yang Anda miliki” -Rabbi Hyman Schachtel 

Sejak lahir, seorang anak telah hidup mimimalis. Anak tidak membawa kepemilikan materi apapun di tangan mereka. Oleh karena itu, decluttering sendiri mengembalikan fitrah anak dengan segala keminimalisannya.

Menjadi minimalis sebenarnya tidak terikat oleh definisi tertentu, melainkan mencari tahu apa yang benar-benar diperlukan, versus apa yang diinginkan demi penampilan. Mungkin Moms merasa anak tidak memiliki baju yang layak untuk dikenakan. Kemudian, Moms membeli baju baru, menjadi bangga dan senang saat anak mengenakannya untuk pertama kali. Padahal, semua baju anak yang ada di lemari adalah pakaian baru pada awalnya. Lalu, mengapa Moms berpikir baju yang ada tidak layak untuk dipakai?

Jawabannya adalah karena baju tersebut telah digunakan berulang kali sehingga nampak biasa saja. Pola ini berlaku pada hampir semua hal. Tidak peduli seberapa banyak Moms menginginkan sesuatu, lama-kelamaan hal tersebut menjadi bagian yang normal/wajar dalam hidup. Lalu menjadi barang lama yang membosankan.

Padahal, Moms tahu bahwa fisik anak cepat membesar. Mereka bertambah berat dan tinggi. Itu artinya, baju-baju lama menjadi tidak layak pakai karena kekecilan. Selain itu, ada pula baju yang jarang dipakai. Bukan karena kekecilan, tetapi karena baju tersebut tidak benar-benar diperlukan oleh anak.

Saat decluttering jangan takut untuk mengurangi baju yang berada di kategori kedua (baju yang tidak benar-benar diperlukan). Moms perlu memahami bahwa decluttering bukan mengurangi harta yang dimiliki, tetapi decluttering bermanfaat untuk menemukan hal yang benar-benar penting bagi Moms dan anak. Pengaruhnya adalah hal-hal yang tidak penting akan berkurang sehingga Moms dapat menghargai barang atau baju yang benar-benar berharga.


Bagaimana cara decluttering baju anak?

1. Niatkan untuk melapangkan hidup dan agar baju yang tidak terpakai bisa bermanfaat untuk orang yang membutuhkan

Berapa banyak baju anak yang hanya cukup dipakai saat usia mereka lebih muda? Bila baju-baju tersebut hanya ditumpuk di lemari, warnanya akan memudar dan kotor. Akan tetapi, jika Moms melakukan decluttering secara berkala, baju-baju tadi bisa “pergi” ke tempat yang lebih baik. Bayangkan, baju yang kekecilan atau jarang dipakai oleh anak Moms, akan dipakai oleh anak lain yang  lebih membutuhkan.

2. Minta persetujuan anak

Berterusteranglah. Untuk anak yang lebih besar (yang sudah bisa diajak komunikasi), pasti saya akan melibatkannya dalam proses decluttering. Anak berhak memutuskan baju mana yang tetap di lemari, dan baju mana yang disingkirkan.

Bila anak kesulitan, Moms bisa membantu memutuskan dengan menyampaikan alasan yang mudah dipahami oleh anak. Tidak ada salahnya mengenalkan pada anak tentang decluttering dan hidup minimalis sejak dini. Semoga dengan begitu, ia tahu bahwa bajunya masih bisa bermanfaat untuk anak lain, dan kehilangan baju bukan berarti kehilangan kebahagiaan.

3. Mulai dari baju anak yang paling kecil

Alasannya simpel yaitu bila Moms memutuskan untuk mempunyai tidak anak lagi, baju tersebut memang benar-benar tidak akan terpakai. Dengan kata lain, baju tadi akan keluar dari rumah.

Tips memutuskan baju mana yang di-decluttering: yaitu baju yang tidak muat/kekecilan, yang berlubang, yang bernoda/luntur, yang usang/lusuh, dan baju yang tidak nyaman dipakai oleh anak.

4. Lanjut ke baju anak lebih tua

Pilah dan pilih baju anak yang lebih tua sesuai dengan tips pada nomor ketiga. Untuk baju yang kekecilan dan masih layak dipakai oleh adik, Moms bisa melungsurkannya dengan catatan si adik mau (jika sudah bisa dimintai pendapat).

5. Ulangi langkah yang sama untuk anak lainnya

Dengan demikian, baju-baju yang masih bisa dipakai oleh adiknya akan tetap berada di rumah. Hanya saja posisinya pindah ke lemari anak yang lain. Lalu, bagaimana dengan baju yang tersisa? Lanjut ke langkah nomor enam ya, Moms.

6. Cara membuang baju (jual/donasidaur ulang)

Moms punya tiga pilihan yaitu menjualnya (preloved) bila baju dalam kondisi bagus, mendonasikannya jika tidak tertarik menjual, atau mendaur ulang baju-baju tersebut. Setidaknya, Moms perlu menyiapkan tiga wadah untuk memisahkan baju anak. Wadah yang digunakan boleh terbuat dari bahan apa saja. Bisa kardus yang ada di rumah, keranjang pakaian, bahkan plastik kresek besar. Ketiga wadah tersebut nantinya akan dibagi menjadi:

  • Perbaiki

Wadah ini digunakan untuk menaruh baju yang butuh dimodifikasi atau diperbaiki. Misalnya piyama dengan kancing yang hilang atau rok dengan ritsleting yang rusak. Kalau Moms punya kemampuan menjahit, baju dan celana berlubang juga masih bisa disiasati dengan cara menutup lubang tersebut.

  • Baju Layak Pakai (Preloved/Donasikan)

Baju yang masih dalam kondisi bagus, baik bermerek atau tidak, dapat Moms jual secara paket. Misalnya lima baju bepergian untuk anak perempuan, atau lima baju tidur anak laki-laki. Tujuannya agar baju preloved ini cepat terjual.

Jika Moms tidak tertarik atau tidak punya banyak waktu untuk menjual, Moms bisa mendonasikannya kepada orang-orang yang lebih membutuhkan. Baju-baju tersebut bisa diberikan ke saudara terlebih dahulu, baru orang terdekat lainnya seperti teman atau tetangga. Bila masih sisa, donasikan ke pihak ketiga yang menyalurkan baju layak pakai.

  • Baju Tidak Layak Pakai (Daur Ulang/Donasikan)

Gunakan wadah ini untuk baju yang tidak bisa Moms jual/berikan ke orang lain tetapi masih bisa didaur ulang, misalnya celana panjang sobek yang ingin Moms kreasikan menjadi tas kain/dipotong menjadi celana pendek, baju luntur digunting menjadi lap dapur/isian beanbag dan sebagainya.

Selain itu, Moms bisa mendonasikannya ke pihak ketiga yang mendaur ulang baju tidak layak pakai. Biasanya mereka akan mengubahnya menjadi barang lain yang bernilai seperti keset, atau kerajinan tangan lainnya.

7. Lakukan Secara Bertahap

Memilah dan menyingkirkan baju anak yang menumpuk di lemari dalam jangka waktu lama, dapat membuat Moms kelelahan. Tidak hanya lelah fisik, tetapi juga emosional. Beberapa baju mungkin memiliki kenangan lebih dibanding baju lainnya, misalnya baju yang dipakai bayi saat pulang dari rumah sakit, baju pesta/baju lebaran pertamanya. Bahkan, baju anak pertama kali bisa berjalan/pertama kali masuk sekolah.


Baju anak yang penuh memori tentu akan lebih sulit untuk disingkirkan. Oleh karena itu, Moms tidak perlu memaksakan diri untuk menyelesaikan decluttering hanya dalam sehari. Saya bahkan membutuhkan waktu berhari-hari untuk decluttering baju anak. Terlebih lagi, untuk Moms yang punya anak lebih dari satu.

Moms bisa mengucapkan selamat tinggal dan berterima kasih pada baju-baju yang memiliki kenangan. Moms juga dapat memotret baju-baju tersebut dan menyimpannya di smartphone atau laptop sehingga tetap bisa dilihat sewaktu-waktu. Intinya, proses decluttering sebaiknya dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan. Bahkan, Moms boleh meminta bantuan anak dan suami bila diperlukan.

Yuk, ajak anak decluttering bajunya sekarang!


Comments

Popular posts from this blog

"My Minimalist Life Journey" Book Launching Webinar & Kick Off MMID Class Series